Sentosa Singapore: ‘Surga’ Yang Tersembunyi

Menulis tentang pengalaman jalan-jalan memang  hal yang menyenangkan disampingsubjectnya mudah untuk ditulis kita juga bisa mengenang pengalaman itu lagi, dan bisa bikin kita kecanduan mau jalan-jalan lagi :).

Inspirasi ini didapat dari Mommy Gaga (lagi) yang menyarankan untuk menulis tentang Singapore. Walaupun cuma kurang lebih dari 6 bulan (karena akan hengkang ke Jakarta dalam waktu dekat ini), Singapore memberikan makna tersendiri untuk kami sekeluarga.

Tempat tinggal kami tinggal tidak jauh dari Sentosa, kira-kira satu jam bila menggunakan transportasi MRT. Sentosa termasuk salah satu tempat wisata di Singapore yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun internasional. Lokasinya yang mirip dengan Dufan Ancol ini (berdampingan dengan laut) menjadi salah satu tempat wisata terfavorit di Singapore.

Sentosa menjadi sangat menarik dan nyaman karena lautnya yang bersih sekali; air yang mengalir dengan desainnya yang sangat menarik; pepohonan yang rindang dimana-mana; tidak ada satu sampahpun yang kami temui selama berkunjung ke tempat wisata ini.

Sejauh mata memandang

Sentosa  yang bersebrangan dengan pelabuhan harbourfront menjadi pemandangan menarik untuk di nikmati ditepi pantai Sentosa.

Pelabuhan Harbourfront ini adalah pelabuhan penghubung utama antara Singapore dan Batam. Jika anda mengunjungi Sentosa jangan lupa mampir ke Harbourfront, karena pemandangan yang dapat membuat anda duduk berlama-lama ini tidak hanya dapat lihat dari sisi pantai Sentosa  saja tapi sebaliknya anda dapat melihat Sentosa di sisi Pelabuhan Harbourfront.

13523892211088518370

Tempat yang cocok untuk cari si ilham 🙂

13523902781631378646

pelabuhan Harbourfront Singapore

Dari Harbourfront ke Sentosa berjarak kurang lebih 500 meters dan untuk menuju Sentosa dari Harbourfront bisa ditempuh dengan eskalator yang  memiliki atap pelindung jadi penumpang tidak kepanasan atau kehujanan selama menuju ke Sentosa – di tambah selama perjalanan pulang pergi ke Sentosa kami di hidangi pemandangan laut yang sedap dimata: enak banget ya :).

jengsri.com                                                 Jauh dimato dengan di jidat 🙂

1352389741987230389

Almost there, yeay!

Sama halnya Dufan Ancol *ih kok nyamain sama Dufan Ancol terus sih, untuk masuk kesini kita harus membayar kira-kira SGD 2-5 dollars. Tiket ini bisa dibayar dengan menggunakan tiket MRT atau walk in – membeli tiket langsung disana, atau bila ingin menggunakan Sentosa Express, yaitu kereta kecil yang menghantarkan dari Harbourfront ke Singapore, bisa langsung membelinya di loket tiket.

Tiket masuk ke Sentosa belum termasuk untuk tiket ke Universal Studio – tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal dan asing! Tiket ini kira-kira berkisar SGD 50-70 dollars *ini jadi kayak orang jualan tiket :).

jengsri.com                                                  Gaya itu kudu – buat pamer, hehe.Sentosa bukan hanya istimewa untuk wisata dengan Universal Studio dan keindahan lautnya saja namun juga karena infrastrukturnya yang menarik; aliran air yang dengan desain yang menarik mengalir disepanjang kaki melangkah di Sentosa, membuat pengunjung merasa adem walaupun ditengah teriknya matahari yang menyengat.

Disamping itu Sentosa memiliki manfaat lainnya selain untuk dikunjungi sebagai tempat wisata – pengunjung dapat melakukan aktifitas fisik yang menyehatkan seperti bersepeda, jogging, bahkan untuk tandom atau aktifitas cinta alam lainnya.

1352393311709391664

wajib hukumnya baca map supaya gak nyasar 🙂

1352392953304506690

Penyewaan sepeda di Sentosa – gak usah repot bawa sepeda :).

Pokoknya kalau anda berniat datang ke Singapore sempatkanlah untuk mengunjungi ’surga’ wisata ini bersama keluarga. Bagi yang belum pernah ke Singapore, untuk  menghindari hassles ada baiknya anda menggunakan travel agent supaya dapet membuat rekreasi waktu anda semakin nyaman dan berharga.

Singapore termasuk negara favorit untuk orang Indonesia untuk berlibur karena mungkin disamping dekat jaraknya biayanyapun tidak terlalu mahal.

Bener gak mahal?

Yup. Diluar ‘acara’ shopping, liburan ke Singapore bisa dijangkau oleh siapa saja. Ini terbukti banyaknya rombongan orang Indonesia yang liburan ke Singapore. Rencanakan perjalanan anda ke Singapore dengan rombongan, semakin besar rombongannya semakin murah biayanya. Lalu hubungi travel agent terpercaya untuk mengorganisasi perjalanan anda selama diSingapore.

Salam jalan- jalan :).

Iklan

Puluhan Zombie Bermunculan di Jembatan Clark Quay Singapore

Akhirnya, bisa kembali ke Kompasiana adalah hal yang sesuatu banget buatku meskipun banyaknya ‘affairs’ yang sudah kulakukan dilahan blog yang lain tetapi ke pelukan Kompasiana pulalah diri ini kembali *terharu, hikz.

Kenapa lama gak ngeblog? Kisahnya berliku-liku dan intinya aku rindu Kompasiana.

Sumbangsih postingan malam ini adalah menyambut Halloween. Ide menulis didapat dari Mommy Gaga di Jerman yang konon katanya lagi super sibuk ‘jualan’ untuk menyambut malam terHOROR di dunia. Diriku sendiri berencana untuk mengikuti (lagi) malam Halloween di Clark Quay Singapura malam ini, namun dikarenakan besok harus bekerja maka niatpun diurungkan sampai tahun depan *heh lama amet?

Di Singapura, penyambutan Halloween sebenarnya sudah dimulai pada hari Sabtu tanggal 27 Oktober bertempat di Clark Quay. Kunjunganku ke Clark Quay bersama suami sebenarnya bukanlah sebuah rencana. Dikarenakan tertarik untuk kong-kowseperti jaman masih muda belia dulu akupun tertarik untuk nongkrong di jembatan Clark Quay yang konon paling ramai dikunjungi saat malam minggu.

Tidak di nyana ternyata  memang benar adanya, jembatan itu penuh dengan khalayak ramai; muda mudi; kakek nenek; anak – anak; semua bercampur menjadi satu. Menjadi semakin seperti dalam Alice Wonderland ketika orang-orang berkostum horor bermunculan dalam sebuah group dan individual.

The Most creative Halloween Party Ever

Para peserta kostum yang entah datangya dari mana, muncul dengan berbagai macam kostum horor. Sayangnya, kami tidak membawa kamera *alamak! Namun karena tidak mau menyia-nyiakan momen ini akupun mengeluarkan HP Nokia jadulku untuk memotret ’setan jadi-jadian’ yang lewat didepan kami.

Dan maaf untuk gambar yang ala kadarnya ini :D.

13516998401958723194

1351699958409877259

Untuk menghindari sakit kepala karena buremnya photo maka cukup ku upload dua photo saja :).

Tongkrongan kami di jembatan yang gak sama sekali mirip Ancol itu menjadi asyik ketika pemakai kostum semakin banyak bermunculan dengan kostum yang bervariasi. Dari kostum ‘terpanas’ dan ‘terdingin’ semuanya menampilkan gambaran horor masing-masing dalam penampilan mereka.

Menariknya, ada beberapa satu paket keluarga yang berpenampilan horor (bahkan anaknya yang balitapun didandanin horor habis-habisan!) Sayang kostum-kostum terbaik malam itu tidak bisa kuabadikan dengan sebuah kamera (karena diriku sudah putus asa dengan HP jadulku yang tidak bisa menghasilkan gambar bagus maka kuhentikan pemotretan dengan penyesalan yang amat sangat *hikz). Dan iripun menghantui diriku ketika hampir semua pengunjung yang datang pada malam itu membawa kamera! *ah ingin rasanya guling-guling di jembatan saat itu!

However, secara tidak sadar kami menjadi ‘juri’ penilai untuk masing-masing kostum. Dan sepertinya kostum halloween terhot untuk female tahun ini telah dipilih oleh khalayak ramai di internet adalah kostum cat woman. Menurutku sendiri kostum Batman dan ceweknya itu gak kalah hot dari cat woman. Ini dibuktikan dengan banyaknya para muda-mudi yang memakai kostum batman dan si cewek batman pada malam itu.

Akhir kata, selamat berhoror ria. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.35 am di Singapore. Jangan lupa kunci pintu dan jendela :D.

Menjelajah Irlandia Di Musim Winter

Hal yang paling kurindukan dari tanah air selain keluarga adalah pantai dan mataharinya. Matahari yang bisa didapatkan setiap harinya ini tidaklah bisa kudapatkan di negeri Westlife.

Pantai Indonesia yang terik bak kompor dan yang tadinya sering aku komplain ini nyatanya bikin aku uring-uringan juga kalau lagi kangen. Pasalnya hangatnya pantai di Indonesia tak bisa kudapatkan di negeri super dingin ini!

Berawal dari rasa kerinduanku akan pantai Indonesia, akupun mengajak kedua sahabatku untuk melakukan perjalananan menyisiri pantai Irlandia.

“Apa?! Ini kan musim winter. Gak salah lo?”

Begitu reaksi pertama yang keluar dari orang-orang. Ya salah sih, tapi daripada ngedekem dirumah bikin badan kayak donat, mending jalan-jalan untuk menghangatkan badan toh?

Akhirnya kedua sahabatku yang statusnya sedang study di Irlandia ini setuju juga untuk melakukan perjalanan maha nekat ini!

Musim winter di Irlandia tidaklah sama dengan musim winter yang ada di negara empat musim lainnya. Kalau masalah dingin, memang sudah dari sononya winter itu dingin, tapi…. masalahnya adalah winter yang di Irlandia ini nampaknya winter kutukan!

Hah, kok bisa?

Iya. Winter disini sangat menusuk kulit, tulang bahkan hati. Irlandia yang negara kecil dan terletak disini kirinya UK ini nampaknya menjadi sasaran empuk untuk mengirim angin dan dinginnya laut Atlantik. Tidak hanya itu, angin kencang yang disertai hujan ini bisa dibarengin dengan salju juga! Alhasil, musim winter di Irlandia adalah musim yang paling semrawut di dunia!

Untuk itu, daripada hari-hari winterku penuh grutuan serta caci maki kepada cuaca yang tak bersahabat ini, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Menyisiri pantai di musim winter adalah sebuah planning yang terdengar aneh di telinga orang. Tapi tidak untuk kami, tiga cewek yang sudah bangkotan namun tetap exist ini, nekat ingin menciptakan rekor se-RT untuk melakukan perjalanan di musim winter.

Berangkat dari kota Dublin dengan menggunakan kereta menuju Gresytone. Perjalanan menuju Greystone memakan waktu paling lama satu jam. Perjalanan juga disuguhkan oleh pemandangan ‘alam surga’ dengan tebing serta laut biru  yang menjulang di sisi kiri jalur kereta dan bukit-bukit kecil mungil disisi kanan kereta yang menyempurnakan pemandangan dari dalam kereta.

Setelah satu jam di kereta, tibalah kami di sebuah village bernama Greystone. Gresytone ini terletak di Selatan Irlandia, dari sini kami berencana menuju ke Wicklow dengan berjalan kaki menyisiri pesisir pantai.

Cuaca yang setengah hidup dan mati alias kadang mendung kadang ada matahari ini, serta di barengin dengan angin yang meliung liung bak tornado ini tidak menjadikan halangan untuk kami tetap konsisten melakukan perjalanan.

13263729521544248625

Awal Perjalanan menuju Wicklow

132637303094160550

Bukit-bukit kecil nan elok itu…

13263742061101519350

Photo ini diambil saat sahabatku sibuk motret tulisan di batu ^_^.

Pada 2 KM pertama perjalanan kami,  pemandangan semakin nampak indah meskipun cuaca yang setengah hidup dan mati ini ikut berpartisipasi dalam penglihatan kami. Ditambah dengan adanya sebuah lapangan golf cantik berhiaskan rumput super hijau dan segar serta dengan background tiga bukit dibelakangnya membuat kami rasanya seperti berada dialam lain!

Kamipun tak menyia-nyiakan pemandangan spektakuler ini untuk diabadikan di kamera kami.

Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya kami mengucapkan “Oh my God” — terasa sekali di hati kami masing-masing bagaimana cantiknya ciptaan Tuhan itu!

Setelah kurang lebih 5 jam jalan di pesisir pantai berakhirlah  kami disebuah kereta yang berlokasi tidak jauh dari sebuah kampung. Entah kenapa perjalanan 5 jam ini tidak membuat kami lelah – meskipun tenaga sudah dicurahkan untuk berjalan kaki, melawan angin, ngobrol sampe berbusa, serta ketawa-ketiwi bak orang gila yang baru keluar dari rumah sakit, tidak membuat kami kekurangan energy sedikitpun. Ini membuktikan bahwa kami adalah tua-tua keladi yang semakin tua semakin asyik!

Melihat waktu semakin sore dan langit sebentar lagi gelap, kamipun memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan segera mencari bus kembali ke stasiun Greystone.

Berbekal map di iPhone salah satu sahabat, Alhamdulilah, selama perjalanan kami gak nyasar :). Inilah manfaatnya dari memiliki device yang canggih :). Bahkan sahabatku itu sempat mengisi status di facebooknya meskipun saat itu kami berada di dunia antah berantah yang tak memungkinkan untuk menangkap sinyal.

Sesampainya di sebuah kampung, kami bertiga mencari pemberhentian bus, yang ternyata kami harus menunggu kurang lebih satu jam, terpaksa kamipun harus mencari tempat berteduh karena cuaca yang sangat dingin ditambah angin yang mendramatisir.

Tapi dasar orang Indonesia, pemandangan kanan-kiri nan elok membuat kami tidak menghiraukan dinginnya cuaca, dan kamipun sudah seperti wartawan kampungan yang ditonton warga lokal, jeprat-jepret kamera gak karuan!

1326374100343120597

Lapangan Golf-pun bisa menjadi sebuah inspirasi :).

13263742871290258473

Sungai kecil yang terletak tidak jauh dari Kampung

Penantian bus satu jam ini kami manfaatkan untuk menikmati secangkir hot chocolate disebuah pub yang terletak tidak jauh dari bus stop. Dan akhirnya perjalananpun dilanjutkan kembali ke kota Dublin dengan berangkat dari stasiun kereta Greystone.

Perjalanan itu benar-benar memberikan makna tersendiri untuk kami bertiga, meskipun telah mengakibatkan salah satu sahabatku sakit akibat angin yang cukup kencang serta dingin yang membuat badan seperti es. Hingga aku menuliskan ini sahabatku terkasih itu masih sakit :(.

Anehnya, meskipun dia sakit dia tetap membuat rencana untuk membuat penjelajahan berikutnya! Bener-bener Indonesiana pemberani!

DBLN, 13.32-120112

Italy I’m In Love

Perjalanan ke Italy ini adalah kunjungan pertamaku, jadi kebayang gimana excitednya aku. Mengunjungi negeri yang sangat terkenal dengan dunia super art-nya mungkin menjadi impian setiap orang. Bagaimana tidak, para master art seperti Da Vinci dan Micqueal (bener gak ngeja namanya? ^^) terlahir di negeri ini, dan yang lebih membuat aku excited adalah kami akan mengunjungi tempat dimana para master Art ini pertama kali menciptakan art spektakulernya mereka – seperti lukisan Monalisa yang sangat terkenal itu lho. Yuhuuuu, gak sabar lagi deh mau langsung meluncur kesana ^^.

Berangkat dari Dublin airport langsung ke Tuscany airpot. Penerbangan sekitar 3 jam. Dari airport Tuscany kami langsung menuju penyewaan mobil yang kantornya berada di airport. Semua arrangement seperti penyewaan mobil, hotel, dan tiket melalui online *untuk yang suka travel biasakanlah booking melalui online biar lebih efisien ^^.

Penyewaan mobil di Italy lumayan murah – kami menyewa untuk 5 hari tanpa supir (harus siap2 nav bagi yang suka nyasar ^^). Harga sewa sekitar 500 euro (6 juta) diluar bensin untuk 5 hari. Pengeluaran mungkin lebih dari 500 Euro kalau kita tidak menyewa mobil, dan yang terpenting bisa keliling Italy bebas!

Enaknya lagi hampir semua mobil yang disewakan di Italy diatas avarage kualitas mobil yang artinya mobilnya sangat luar biasa nyaman (beginilah orang Indo yang norak ^^). Mobil di lengakpi alarm, jadi kalau tidak memakai seatbelt alarm akan berbunyi sampai semua orang di mobil menggunakan seatbelt *duh kebayang deh kalau nih mobil ada di Indonesia – mungkin alarmnya di rusak biar lebih nyaman ^^.

Perjalanan dari Tuscany ke Tenuta Quadrifoglio sekitar 2 jam. Sesampainya di vila, tempat dimana kami akan menghabiskan liburan selama 2 hari. Takjub luar bisa dengan pemandangan disekitar vila kami menginap.

 

13251810051253954156
Vila nampak dari hasil jepretan di dalam mobil ^^
1325182018235416344
Pemandangan disekitar Tenuta
13251822221808855896
Mirip ya sama puncak Bogor. Tapi yang ini gak pake polusi, hehe.
1325182347175801729
Castle diarea Tenuta. Mampir bentaran aja kesini ^^.

 

Dua hari di Tenuta itu gak kerasa *jadi harus di tabok dulu sama hubby biar kerasa ^^. Selanjutnya kami meluncur ke Florence.

Florence ini adalah tempat dimana si master art Mr Da VinCi melahirkan karya2 hebatnya. Kebetulan hubby sudah membooking hotel dipusat kota Florence, hotel Pendini – lokasi yang pas banget untuk jalan-jalan. Setelahcheck in, kami langsung keliling kota di Florence.

Ternyata Florence ini…. ALAMAK, sangat, sangat, sangat luar biasa menakjubkan. Aku langsung in love begitu melihat bangunan tua Cathedral berdiri megah mengelilingi kota Florence, patung2 karya besar Micquael tegap menjulang — ah, Italy I’m really in love.

13251828871215912752
Disebutnya Duommo yang berarti Cathedral.
132518549064573228
Duomo 1
132518558681747424
Duomo 2
13251858201219879916
Pemandangan dari atas Duomo ^^.
1325183346222354048
Ini patung yang sangat terkenal itu (maksutnya saya baru mengenalnya saat itu ^^)

 

Seperti halnya di Tenuta, menginap di Florence yang hanya satu malam sangat, sangat tidak memuaskan. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan ke Milan.

Milan oh Milan

Kira2 satu jam perjalanan dari Florence ke Milan di tempuh. Kami sempet nyasar walaupun sudah memakai nav *ini karena aku yang salah memberi petunjuk ^^.  Sempat tertipu oleh pria yang menawarkan parkir disamping hotel, sang pria meminta parkir 15 euro/malam, padahal ada free parkir untuk customer hotel! Nasi udah jadi bubur mau diapain lagi – ya wis dimakan wae ^^.

Malamnya kami dinner di Milan City. Lagi, berbekal map. Window shopping adalah hal yang menyenangkan buat kaum hawa, khususnya di kota Milan, salah satu city fashion in the world, tapi….. harganya alamajang! so forget it ^^.

 

1325184401965308721
Main course dinner yang sangat kecil dan tidak mengenyangkan ^^
13251844901382984305
Antara dirikuh dan Cathedral yang super megah ^^
13251845971973072678
Sepeda untuk publik: kapan kita punya seperti ini ya?
13251846931527046689
Museum The Last Supper Da VinCi

 

Museum The Last Supper adalah persinggahan kami terakhir di Milan setelah berkeliling Milan menikmati window shopping dan atmosphere Milan yang tidak hanya menyegarkan mata tapi juga jiwa *deuh segitunya ^^.

Lima hari di Italy sungguh tidak cukup, tapi kantong berbicara cukup! so kami harus pulang kembali Ke Dublin. Walaupun tidak cukup lima hari sangat berharga untuk kami, khususnya aku, dan tentunya kami akan kembali lagi suatu saat ke negeri penuh suka cita ini ^^.

DBLN, 18.57-291211

 

The Ceremony In Pemalang

Terkadang banyak hal yang sering aku komplain sebagai seorang wanita, pasalnya aku harus bekerja super double, ya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai student, pekerja dan belum lagi kegiatan tetek bengek. Hingga suatu hari aku mensyukuri betapa beruntungnya aku terlahir sebagai seorang wanita karena…

Gak harus sunat!! Oh thank God!

Sungguh belum melaksanakan sunatannya aja aku sebagai ibu sudah super deg-degan, kebayang bagaimana nervousnya Ade.

Ade memutuskan untuk disunat pas naik kelas VI. Akhirnya keputusan ini dia buat karena banyaknya teman sebayanya yang sudah di sunat. Hampir dari semua teman sebayanya berkomentar kalau sunat itu enak *maksudnya enak karena dapet uang banyak kali ya? :).

Berhubung Ade pernah sekolah di Pemalang iapun memintaku untuk di khitan di Pemalang. Pelaksanaan khitan ini sudah direncanakan satu tahun sebelumnya. Hubby kali ini harus mengocek uang sakunya lagi untuk keberangkatanku ke Indonesia 😦 *keberangkatanku ke Indonesia adalah kedua kalinya di tahun 2011 dan hanya dua minggu setelah holiday kami ke Italia – jadi kebayang sudah berapa duit yang terkuras dari pundi kami, hikz :(. Dan hubbypun mengeluarkan ultimatum untuk aku “No shopping anymore till next year”. lol.

Setelah dua hari di Jakarta aku dan Ade langsung menuju ke Pemalang. Ade mempunyai waktu 2 minggu liburan sekolah so waktu yang cukup untuk ade sunatan sampe ia sembuh.

Setibanya di Pemalang aku langsung bersibuk ria dengan beberapa orang penting di RT tempat kami tinggal. Jetlag yang masih belum sembuh ditambah sibuk dengan persiapan Ade sunat semakin memperparah kondisiku.

Dan hari H-nya pun tiba…

Dimana Ade harus siap menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Keluarga dan teman-teman Adepun pagi-pagi buta sudah siap didepan jalanan untuk memberikan dukungan mereka kepada Ade.

Suasana di tempat dokter praktik khitan.

Ini para tukang masak-nya si Ade yang menginap 2 hari 2 malam di rumah! Terimakasih Ibu-ibu yang kuat dan baik hati!

Soto khas Pemalang siap di santap! Yuhuuuu!

Ini hasil uang kondangan dari teman2nya Ade. Selebihnya si Mbah yang pegang duit :).

Terlihat jelas Ade nervous sekali. Sesampainya di dokter khitan, beberapa bocah cilik yang ingin disunat telah mengantri. Ade mendapatkan beberapa wejangan dari para tetua di keluarga kami. Aku sebagai wanita yang tak menahu tentang rasanya di sunat hanya diam membisu…

Sesampainya diruang operasi…

Ade semakin nervous, karena mengingat pasien khitan sebelumnya berteriak-teriak ketika didalam ruang operasi dan masih menangis meraung-raung ketika bocah yang sudah tidak terlalu cilik itu keluar dari ruang operasi dengan digandeng bapaknya.

Sang dokter yang diketahui sudah bertitle Haji tersebut menyambut Ade dengan senyum hangat dan Adepun mencium tangan Pak Haji Dokter tersebut. Pertanyaan yang keluar pertama dari mulut Ade adalah: “Nanti sakit gak Pak?” Pak Dokter tersenyum dan menjawab: “Geli kok rasanya”.

Adepun dibaringkan, aku berada disebelah kanannya, dan dua pamanku berada di ujung kaki Ade dan sebelah kirinya. Pembiusan sedikit sulit dillakukan karena ketegangan tubuh Ade yang membuat sang dokter tidak membius bagian tersebut.

Akhirnya setelah hampir 10 menit lebih pembiusanpun sukses.

Setiap Ade merasakan sakit selama operasi khitan berlangsung Ade berusaha menghitung angka, dan aku mengajaknya ngobrol ngalor ngidul *padahal hal itu aku lakukan supaya aku tidak mengeluarkan air mata didepan Ade :(.

Alhamdulilah, operasi khitan berjalan lancar dan Ade baik-baik saja :). Bravo anakku!

Pesta khitan berjalan lancar, walaupun Ade sesekali merasa sakit *khususnya waktu biusannya hilang, tetapi ia kelihatan happy sekali dengan acara spesialnya itu.

Emm, khitanan ini membuat aku berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya dengan seadil-seadilnya. Wanita merasakan sakit saat melahirkan begitupun pria saat di khitan.

I’m very proud of you my son. I love you very much. 

DBLN, 19.24-111211

P.S. Kisah perjalanan pada bulan Juni 2011 :).

Banjir Ala Negara Tajir Di Eropa

Hujan deras berhari-hari di Indonesia dan menyebabkan timbulnya kolam renang yang tercipta secara dadakan bukanlah sebuah phenomena yang luar biasa.

Malah bisa menjadi hari-hari yang spesial untuk banyak anak-anak di Indonesia karena banjir yang tentunya gak hygenis ini ternyata bisa dijadikan aktifitas yang menyenangkan seperti berenang.

Hmm, ini juga ngingetin aku sama jaman unyilku :). Hujan buatku adalah sebuah berkah karena berarti aku bisa main perosotan di jembatan miring yang terletak tidak jauh dari Mesjid.

Jembatan miring ini paling enak dijadikan basecamp untuk bermain bersama anak-anak di komplek saat musim hujan. Apapun akan aku lakukan untuk bisa gabung main di jembatan miring ini – walaupun harus fight sama Ibu :).

Itu kalau hujan di Indonesia, sederas atau sebanjir apapun orang akan menanggapinya sebagai suatu kejadian yang harus diterima apa adanya. Tapi entah kenapa, hujan yang cuma satu hari di Irlandia dan menyebabkan banjir bak di Indonesia ini bikin aku greget dan gak berenti ngomel sepanjang perjalanan.

Ini hasil photo pencarian di Internet tentang keadaan beberapa kota di Irlandia yang lagi di landa banjir.

Banjirnya kayak di Jakarta aja kan?

Banjirnya lebih bersih disini tapi tetep aja sama-sama BANJIR!

Bisa di pahami kalau di Indonesia pemerintah belum tahu caranya menanggulangi banjir: yang jelas banyak faktornya ya, dan aku gak bisa nyebutin satu-persatu :).

Perjalanan ke town hari ini di Dublin baik yang menggunakan transportasi publik atau pribadi mengalami gangguan dikarenan adanya banjir. Termasuk kereta.

By the way, postingan ini merupakan draft posting yang sudah aku simpan selama hampir lima bulanan 😦 – baru sempet di posting sekarang karena harus ngubek-ngubek photo di file :).

DBLN, 13.06-101211

Kura-Kura Beach Itu…..

Heran juga dengan hubby yang bisa bertahan dengan cuaca panas diatas 30-an degrees , sementara diriku yang brojol dan besar di negeri tropis merasa seperti disayat2 oleh teriknya sinar matahari di Kalimantan. Hal ini yang membuat aku sepanjang perjalanan ke Singkawang mengeluh kepanasaan meskipun mobil yang dilengkapi dengan ac itu sudah di set maximum.

Perjalanan ke Singkawang memakan waktu kurang lebih dari 3 jam. Perjalanan yang cukup menyiksa karena panas yang membuatku seperti dalam oven 250 degrees. Ditambah sang supir yang muda belia, profesional tapi kurang ‘penataran’ itu menyupir layaknya membawa kambing bukan manusia (bahkan supir yang membawa kambingpun lebih hati2 daripada supir ini!).

Aku sempat mencoba untuk mengambil beberapa photo ketika kami melewati museum khatulistiwa, tapi nyatanya perutku yang sudah super mual gak bisa lagi di ajak kompromi untuk hanya sekedar mengambil satu photo dalam perjalanan ke Singkawang, tepatnya ke Kura-Kura beach.

Kura-Kura Beach

Untuk menuju tempat ini agak susah-susah gampang. Kembali ngomongin masalah supir, walaupun si supir begajul, tapi sang supir berbaik hati mau mencari Kura-Kura cottage yang memang lokasinya sangat terisolasi dari masyarakat. Paling gak sikap baik si supir membuat temperku agak terobati — soale sempet mau nyemprot si supir :).

Pantai di depan Kura2 Cottage menjelang sore.

Ketika si supir bertanya pada seorang gadis belia lokal, si gadis menunjuk kearah perbukitan (yang nampak di mataku dan hubby tidak ada tanda2 kehidupan manusia bahkan semut). Segeralah mobil di laju kearah perbukitan, namun nampaknya si supir gak mampu lagi melanjutkan perjalanan dikarenakan jalan setapak keatas yang keliatannya memang sulit untuk dilalui. Mau gak mau, aku dan hubby harus turun dari mobil.

Menuju jalan setapak keperbukitan yang keliatan sepi nyenyet membuat aku sedikit khawatir. Namun setelah berjalan hampir 15 menit, tepat di tengah2 perbukitan, kami disuguhi pemandangan super spektakuler: lautan dan pulau, dengan pantai beningnya terhampar luas di depan kami!!

Ini dia cottage spektakuler di Kura2 Beach!

Aku dan Charly (pemilik cottage), dan Widya. Gelap2an tanpa lampu 😉

Perjalanan di lanjutkan sampai ku liat seorang wanita muda dengan seorang bule sudah cukup umur didepan sebuah rumah kayu. Aku dan hubby sempet beragumentasi bahwa rumah itu kemungkinan cottage kura2 beach, namun hubby berisi keras tidak. Hingga akhirnya kami temukan jawabannya.

Aku: “Permisi mbak, dimana ya Kura2 cottage?”

Wanita muda (yang kuketahui bernama widia), sambil tersenyum marah dan manis, dia membalas: “Ini kura2 cottage mbak”.

Akupun menoleh ke hubby dengan senyum kemenangan :).

Kura2 beach. Pantai ini kurang bening karna ngambil photonya menjelang jam 7 dimana air pasang dan angin bertambah kuat pada malam hari

Untuk cottage yang gak kliatan mewah ini ternyat biayanya cukup mahal, yaitu Rp 250 ribu/person, sudah termasuk breakfast dan dinner. Jadi total berdua Rp 500 ribu. Si empu cottage berpendapat bahwa harga itu sebenarnya bukanlah untuk menyewa cottagenya, tapi untuk pemandangan dan pantainya yang spektakuler. Bener juga sih, untuk surga yang terisolasi dan hanya satu2nya tempat penginapan di daerah itu, kami gak bisa lagi bernegosiasi apalagi menolaknya!

Lampu listrik yang memakai diesel ini tidak dinyalakan sampai pukul kira2 8 malam. Kasian juga ngeliat Widya memotong kentang dan masak untuk dinner kami hanya dengan senter, tapi hal ini dilakukan tentunya untuk menghemat diesel. Nginep di Kura2 cottage ini mengingatkanku masa2 camping waktu sma — akupun sedikit menikmati kegelapan yang hanya dengan diterangi rembulan pantai bersama hubby :).

Malamnya hubby sibuk pasang kelambu dikamar (hasilnya lucu, maklumlah hubby gak biasa pasang kelambu.lol) — sempet mau ambil photo tapi takut hubby sewot :)).

7 jam malam di Kura2 cottage seperti 24 jam, pasalnya aku gak bisa tidur karena memikirkan ada binatang buas, plus memikirkan kalau ada tsunami, hiiiiiii. Jadi deh pagi harinya aku lusuh luyuh gak ada tenaga :(.

DBLN, 23.39-17061