The Ceremony In Pemalang

Terkadang banyak hal yang sering aku komplain sebagai seorang wanita, pasalnya aku harus bekerja super double, ya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai student, pekerja dan belum lagi kegiatan tetek bengek. Hingga suatu hari aku mensyukuri betapa beruntungnya aku terlahir sebagai seorang wanita karena…

Gak harus sunat!! Oh thank God!

Sungguh belum melaksanakan sunatannya aja aku sebagai ibu sudah super deg-degan, kebayang bagaimana nervousnya Ade.

Ade memutuskan untuk disunat pas naik kelas VI. Akhirnya keputusan ini dia buat karena banyaknya teman sebayanya yang sudah di sunat. Hampir dari semua teman sebayanya berkomentar kalau sunat itu enak *maksudnya enak karena dapet uang banyak kali ya? :).

Berhubung Ade pernah sekolah di Pemalang iapun memintaku untuk di khitan di Pemalang. Pelaksanaan khitan ini sudah direncanakan satu tahun sebelumnya. Hubby kali ini harus mengocek uang sakunya lagi untuk keberangkatanku ke Indonesia 😦 *keberangkatanku ke Indonesia adalah kedua kalinya di tahun 2011 dan hanya dua minggu setelah holiday kami ke Italia – jadi kebayang sudah berapa duit yang terkuras dari pundi kami, hikz :(. Dan hubbypun mengeluarkan ultimatum untuk aku “No shopping anymore till next year”. lol.

Setelah dua hari di Jakarta aku dan Ade langsung menuju ke Pemalang. Ade mempunyai waktu 2 minggu liburan sekolah so waktu yang cukup untuk ade sunatan sampe ia sembuh.

Setibanya di Pemalang aku langsung bersibuk ria dengan beberapa orang penting di RT tempat kami tinggal. Jetlag yang masih belum sembuh ditambah sibuk dengan persiapan Ade sunat semakin memperparah kondisiku.

Dan hari H-nya pun tiba…

Dimana Ade harus siap menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Keluarga dan teman-teman Adepun pagi-pagi buta sudah siap didepan jalanan untuk memberikan dukungan mereka kepada Ade.

Suasana di tempat dokter praktik khitan.

Ini para tukang masak-nya si Ade yang menginap 2 hari 2 malam di rumah! Terimakasih Ibu-ibu yang kuat dan baik hati!

Soto khas Pemalang siap di santap! Yuhuuuu!

Ini hasil uang kondangan dari teman2nya Ade. Selebihnya si Mbah yang pegang duit :).

Terlihat jelas Ade nervous sekali. Sesampainya di dokter khitan, beberapa bocah cilik yang ingin disunat telah mengantri. Ade mendapatkan beberapa wejangan dari para tetua di keluarga kami. Aku sebagai wanita yang tak menahu tentang rasanya di sunat hanya diam membisu…

Sesampainya diruang operasi…

Ade semakin nervous, karena mengingat pasien khitan sebelumnya berteriak-teriak ketika didalam ruang operasi dan masih menangis meraung-raung ketika bocah yang sudah tidak terlalu cilik itu keluar dari ruang operasi dengan digandeng bapaknya.

Sang dokter yang diketahui sudah bertitle Haji tersebut menyambut Ade dengan senyum hangat dan Adepun mencium tangan Pak Haji Dokter tersebut. Pertanyaan yang keluar pertama dari mulut Ade adalah: “Nanti sakit gak Pak?” Pak Dokter tersenyum dan menjawab: “Geli kok rasanya”.

Adepun dibaringkan, aku berada disebelah kanannya, dan dua pamanku berada di ujung kaki Ade dan sebelah kirinya. Pembiusan sedikit sulit dillakukan karena ketegangan tubuh Ade yang membuat sang dokter tidak membius bagian tersebut.

Akhirnya setelah hampir 10 menit lebih pembiusanpun sukses.

Setiap Ade merasakan sakit selama operasi khitan berlangsung Ade berusaha menghitung angka, dan aku mengajaknya ngobrol ngalor ngidul *padahal hal itu aku lakukan supaya aku tidak mengeluarkan air mata didepan Ade :(.

Alhamdulilah, operasi khitan berjalan lancar dan Ade baik-baik saja :). Bravo anakku!

Pesta khitan berjalan lancar, walaupun Ade sesekali merasa sakit *khususnya waktu biusannya hilang, tetapi ia kelihatan happy sekali dengan acara spesialnya itu.

Emm, khitanan ini membuat aku berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya dengan seadil-seadilnya. Wanita merasakan sakit saat melahirkan begitupun pria saat di khitan.

I’m very proud of you my son. I love you very much. 

DBLN, 19.24-111211

P.S. Kisah perjalanan pada bulan Juni 2011 :).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s