‘Pernak-Pernik’ Di Kota Pontianak

Berdua, aku dan hubby segera masuk kedalam losmen. Ruang resepsionist losmen yang bergabung dengan parkiran motor itu nampak seperti penyewaan motor dari pada sebuah losmen. Dua wanita yang ku ketahui sebagai resepsionist losmen menyambut kami dengan pandangan ‘tak menyambut’.

“Ada kamar mbak” Tanyaku kepada salah satu wanita yang berdiri di ruang resepsionist.

“Ada, mau yang berapa” Jawab salah satu dari mereka dengan datar.

“Hmm, bisa liat harganya” Tanyaku lagi sambil senyum-senyum masam (kebiasaan banyak senyum sama siapa aja jadi agak susah kalau gak senyum 🙂 ).

Sang wanitapun menjelaskannya harga kamar dengan mimik yang tak semangat. Karena tidak mau berpanjang lebar, akhirnya kami sepakat untuk mengambil kamar dengan harga Rp 175 ribu.

“Ada surat nikahnya Mbak” tanya wanita tersebut lagi.

“Oh ya ada” kataku sambil melirik ke hubby yang berdiri disamping. Hubby yang tak mengerti apa yang kami bicarakan balik memandangku dengan tatapan tak mengerti.

“What?”

“Marriage certificate?” kataku sambil menengadahkan tangan kepadanya.

“Oh, so strict” balas hubby sambil membuka tas mengambil photo copy surat nikah kami.

Setelah menyerahkan photo copy surat nikah, sang wanita memanggil seorang pegawai untuk membantu membawakan tas kami.

Kamar kami terletak di lantai paling atas, yaitu lantai tiga. Ternyata losmen yang nampaknya tak bagus dari luar itu memiliki kenyamanan didalamnya yang tak kalah dengan hotel-hotel bintang 3 di Jakarta. Kamar yang seharga Rp 175 ribu ini memang berukuran kecil, namun dilengkapi dengan ac dan furniture yang lumayan bagus. Sempat terbersit didalam pikiranku sang pemilik losmen kemungkinan sengaja membangun keadaan luar losmen yang kurang baik untuk menghindari pembayaran pajak yang mahal :).

Satu malam di kota Pontianak memberikan sejuta sensasi di mata hubbyku. Sebuah cafe yang berlokasi tidak jauh dari losmen, sempat membuat hubbyku entah heran, kaget atau kagum: kumpulan muda-mudi berjejer rapi dengan hanya sebotol softdrink!

Beberapa waitress (yang tentunya cantik-cantik ;)) yang bekerja di sebuah restaurant, saat kami makan berbisik-bisik melirik ke arah hubby. Entah apa yang dibisikkannya, namun saat aku ke kasir mau membayar, salah satu waitress tersebut menyapaku: “Kak, salam ya buat bule itu”.

Saat waitress tersebut memberikan kembalian kubilang ke hubby tentang salam itu didepan waitress tersebut, sambil senyum-senyum hubby membalas: “Waalaikumsalam..”

Seperjalanan pulang hubby berkata: “I thought Indonesian woman too shy to do that”. Aku hanya membalas dengan senyuman, sambil memandang kearah keributan disebuah warung kafe yang dipenuhi dengan masa dan polisi.

Karena waktu yang sangat terbatas, kami tidak sempat mengelilingi kota pontianak. Jadi waktu hanya di habiskan untuk mencari informasi tentang trip ke Tanjung Poteng. Ternyata mencari informasi untuk travel di pulau Kalimantan ini agak sulit karena banyak agent travel di kota pontinak ini yang tidak menyediakan paketnya.

Sungguh aneh hal ini tentunya buat kami, karena banyak obyek wisata di Kalimantan ini yang sangat terkenal didunia internasional, salah satunya ya itu, Bunga Raflesia di Singkawang dan Tanjung Poteng tempatnya orang utan yang dilindungi. Yang lebih membuatku terheran-heran lagi adalah justru banyak travel travel yang malah mempromosikan travel ke luar negeri.

Dari beberapa travel agent yang kami kunjungi untuk mencari informasi perjalanan ke Tanjong Poteng, tidak satupun yang bisa memberikan petunjuk dimana kami bisa mendapatkan informasi.

Ada sih seseorang yang memberikan informasi untuk perjalanan kesana, namun beliau memberikan harga yang lumayan mahal (ditambah lagi mengaku bahwa beliau adalah pemilik dari kapal-kapal di Tanjung Poteng). Karena tak yakin, akhirnya kami memutuskan untuk mencari informasi di Singkawang saja.

Perjalanan ke Singkawang bisa dilakukan dengan bus. Tapi kami lebih memilih  travel agent bus, disamping lebih nyaman harganyapun cukup murah yaitu Rp 75 ribu/orang. Pagi dini hari, kamipun siap2 melanjutkan perjalanan ke Singkawang.

DBLN, 16.18-050611

Iklan

2 thoughts on “‘Pernak-Pernik’ Di Kota Pontianak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s