Akhirnya Bertemu Sahabat Lama Di Yogya,

Setelah sepakat untuk bertemu di Yogya, tepatnya di gedung kesenian dekat alun2, siang itu, pukul 11 siang, aku bersama Ade berangkat ke Malioboro dengan becak langganan kami yang biasa di panggil dengan Pak Gondrong.

Teman lamaku ini tinggal di Purworejo dan asli Semarang namun besar di Pemalang. Kami sudah tidak bertemu hampir 15 tahun! Ya ampun lama sekali ya. Tidak disangka kami tidak bertemu selama itu, so bisa dibayangkan bagaimana excitingnya kami ingin bertemu kan.

Ari, nama panggilan sahabatku itu. Kami bersahabat sejak masih jaman SMA. Sayangnya setelah sibuk dengan kesibukan masing2 kami tidak lagi memberikan kabar. Well, sebenarnya aku sempat memberi kabar, tapi ternyata kabar itu tak sampai ke Ari :(.

Ari sangat mudah bergaul dan memiliki teman dimana2, jadi tidak sulit untuk mencarinya. Dengan menanyakan salah satu temannya, aku mendapatkan nomor telepon Ari. Ternyata Ari sendiri kaget waktu menerima telponku, apalagi saat ku beritahu bahwa aku sedang di Yogya bersama anakku. Aripun segera membuat agenda untuk bertemu di Yogya.

Sesampainya di gedung kesenian, aku dan ade clingak-clinguk mencari sosok orang yang ku cari. Ku lihat seorang pria kurus memakai kemeja, jeans dan topi. “Itukah Ari?”….”Ah masak sih kurus?” batinku bertanya-tanya.

Setelah menghampiri lebih dekat ternyata… ya ampun benar itu sahabatku! Dia hanya tersenyum2 melihatku, seperti malu; setelah terkejut beberapa saat karena wajah dan penampilannya yang berbeda dari 15 tahun yang lalu, akupun segera menjabat tangan dan memeluknya dengan antusias.

“Ari kamu kok jadi begini?” aku hampir keluar airmata saking bahagianya karena akhirnya bisa bertemu setelah hampir 15 tahun dan mungkin sedikit sedih melihat keadaanya yang sekarang.

Dia hanya menjawab lirih dengan senyum sungkan: “Beginilah hidup, yan..”

Setelah beberapa menit bercakap2 di luar gedung kesenian dan mengenalkan Ari dengan Ade, akhirnya kami memanggil Pak Gondrong menuju Malioboro.

***

Tiba di Malioboro kami memutuskan untuk pergi ke kafe JCo. Sesampainya disana kami mengambil tempat duduk paling pojok. Kami bertiga memesan minuman dan donat yang sama.

Berbincang-bincang dengan Ari selalu menyenangkan meskipun kulihat sarat kesedihan dalam raut wajahnya tetapi Ari adalah tetap sosok sama dimataku yaitu seorang sahabat.

Ari terkenal dengan kenakalannya saat remaja yang suka bolos sekolah, menghabiskan uang sekolah, dan ngamen saat jam sekolah, yang lebih para adalah suka minuman keras. Namun satu hal yang kutetap menaruh kagum terhadap Ari yaitu Ari memiliki sopan santun layaknya orang keraton. Dia selalu berbicara dengan siapapun dengan penuh kesopanan.

Ade & Om Ari

Ari memutuskan untuk menginap di hotel dekat keraton dimana kami menginap. Semalaman, aku, Ari, dan Ade menghabiskan waktu di alun2 untuk bermain lampu lempar setelah kembalinya makan malam. Setelah itu kami kembali ke hotel dan lanjut dengan percakapan di belakang hotel yang berhias ukiran cantik; dan kami bertigapun asyik tenggelam dalam obrolan ngalor ngidul sampai tak terasa pukul satu malam!

Sampai akhirnya aku dan Ade menyerah karena mata tak bisa lagi ajak kompromi.

Paginya, kulihat Ari sudah rapi di belakang balkoni berselonjor kaki dikursi berukiran yogya itu. “Pagi Nyonya Hanniffy” sapanya begitu melihatku masih berpiyama dengan kondisi rambut awut2an. Akupun nyengir kuda sebagai jawaban pagiku juga.

Ternyata Ari dan Mas Yono sang manager hotel, semalaman melanjutkan obrolan sampai pukul 5 pagi!

Ah Ari memang selalu seperti itu, selalu mudah mendapatkan teman dimana saja.

Terimakasih sudah menyempatkan diri bertemu kami di Yogya Ari.

DBLN, 22.01–41210

Iklan