Yogya, I’m In Love … (I)

Akhirnya aku bisa juga mampir ke kota teristimewa di Indonesia ini setelah hampir bertahun-tahun tidak mengunjunginya ternyata tidak banyak yang berubah. Well, perubahan yang sangat mencolok adalah kemacetan lalu lintas di jalan-jalan utama kota Yogya seperti di jalan Malioboro. Rupanya kota-kota besar di Indonesia, bahkan perkampungan juga sudah disesaki oleh kendaraan pribadi terutama motor. Entah akan menjadi apa Lalu Lintas di Indonesia dalam 5 tahun kemudian…

Keberangkatanku ke Yogya kali ini bersama anakku yang berumur 10 tahun, dalam rangka liburan sekolah, aku dan Ade sudah berencana untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia seperti Semarang, Yogya, dan Bali. Ade yang kebetulan terlahir di Denpasar begitu mendengar bahwa aku akan membawanya kekampung halaman menyambutnya dengan begitu antusias. Setelah berlibur di Semarang selama 3 hari kami melanjutkan liburan ke Yogya. Dari Yogya kami berangkat bersama keluarga temanku yang kebetulan asli orang Semarang. Bersama kedua anak temanku yang masing-masing berusia 2,5 tahun dan 9 tahun, kami menuju ke Yogya.

Perjalanan dari Semarang ke Yogya dengan mobil pribadi memakan waktu sekitar kurang lebih 3 jam. Dari Semarang kami sempat mampir ke restaurant di daearah Semarang, jalanan yang menuju ke daerah Bandungan. Selama perjalanan ke daerah Bandungan kami disuguhkan pemandangan-pemandangan yang luar biasa cantik, dan pemandangan ini layaknya pemandangan di luar negeri loh, sangat menyejukkan mata dan menetramkan hati.

Sebelumnya kami juga mampir ke Candi Borobudur. Karena kebetulan jaraknya jauh dari tempat parkir ke candi borobudur, ada baiknya kalau kita membawa anak-anak sudah menyiapkan beberapa makanan ringan dan minuman sebagai bekal. Jarak dari pintu masuk ke Borobudur juga cukup melelahkan, jadi kami memutuskan untuk naik kereta, yang kalau tidak salah harga tiketnya sekitar Rp 5,000 – Rp 10,000, dengan harga yang cukup murah itu kita juga sudah mendapatkan 1 aqua botol kecil, lumayan kan?

Beberapa orang¬† juga menjual buku tentang sejarah borobudur. Harga bukunya juga lumayan murah sekitar Rp 25,000 — dengan harga segitu kita masih bisa menawar lho — Kalau memang kita kurang paham tentang sejarah borobudur, tidak ada salahnya kita membelinya untuk pengetahuan buah hati kita atau untuk kita sendiri. Karena aku sendiri sempet kewalahan menjawab pertanyaan anakku tentang beberapa simbol yang terdapat di Candi Borobudur: Maklumlah sudah lama gak buka buku sejarah :).

Setelah hampir menjelang sore, tepatnya menjelang Borobudur akan di tutup kamipun bersiap-siap meninggalkan candi Borobudur. Perjalanan keluar dari Candi tidak sama dengan perjalanan masuk yang tadi kami lalui, perjalanan keluar kali ini menuju semacam market traditional yang menjual berbagai macam produk kerajinan tangan khas dari Yogya. Mulai dari perjalanan pulang, sepanjang jalan pintu keluar pengunjung diikuti oleh para penjual pengrajin tangan. Sangat menggoda loh, apalagi kalau kita membawa si kecil. Nah, untuk menghindari ‘pengeluaran’ yang tak penting ada baiknya si kecil di gendong. Tapi kalau sudah 10 tahun seperti anakku, ya di ingatkan saja kalau dia tidak memerlukannya.

Menjelang Maghrib perjalanan di lanjutkan ke Yogya. Wah, sudah tak sabar lagi nih ada apa di Yogya…

JKT, 20.31-130810

Iklan