Aku, Jum, Dan Pantai Chaweng Koh Samui

Tidak heran Thailand menjadi pusat liburan utama bagi para ‘westerns’ dari manca negara — dan tidak heran juga kalau pantai Koh Phi-Phi yang cantiknya luar biasa tersebut jadi lirikan seorang produser hollywood untuk dijadikan sebuah film ‘Beach’ yang dibintangi oleh sang aktor tampan Leonardo. Dan tidak hanya disitu, hirup-pikuk kota Bangkok serta beberapa daerah dibagian terpencilpun menjadi sasaran produser Holloywood.  Inilah Thailand, sungguh sebuah ‘kerajaan’ unik dan menakjubkan — pesona alami penduduk dan sumber daya yang menggugah hati —  dan sebuah sumber inspirasi yang tak habis ….

Pulau Koh samui hanyalah sebuah pulau kecil, namun kekecilan pulau ini memiliki potential daya tarik bagi turis lokal dan manca negara. Bahkan saat aku berada di pulau ini pada tahun 2005 , anak tertua dari Raja Thailand menghabiskan waktu seminggu di pulau ini untuk berlibur.

Pantai Chaweng adalah salah satu pantai di Koh Samui yang banyak dikunjungi oleh para kaum turis. Dan pantai Chaweng ini juga menjadi salah satu tempat liburan favoritku di Thailand. Selain pantai Chaweng, ada juga pantai Lamai, tempat ini sangat nyaman dan bagus untuk para penulis buku, karena kesunyian serta panoramanya yang sangat menggoda untuk menggali inspirasi kita.

Dipulau Koh Samui ini juga aku menemukan beberapa sahabat, diantaranya adalah Jum. Jum seorang wanita yang berperawak kurus dan tinggi dengan pirus wajah yang sedikit agak judes. Banyak orang  yang tidak mengenal Jum jika pertama kali bertemu akan menilainya sebagai ‘perawan’ tua yang judes. Akupun sempat menilai Jum demikian saat pertama kali kami bertemu  secara tidak sengaja dalam sebuah warung makan traditionalnya Thailand. Warung terssebut terletak tidak tepat disamping bungalow dimana aku tinggal. Warung ini juga menjadi tempat favorit untuk makanku sehari-hari. Sampai-sampai sang pemilik warung bersuami-istri itu menawariku untuk bekerja di warung tersebut. Karena tidak ada yang aku kerjakan — biasanya pagi sekali aku sudah bangun dan pergi kepantai, lalu menjelang sore aku bergabung dengan group aerobic lokal, dan malamnya aku mengunjungi Irish Pub yang tak jauh dari bungalow — akupun memutuskan untuk membantu mereka sebagai waitress khusus untuk para turis manca negara., karena kebetulan mereka tidak pandai berbicara bahasa Inggris. Meskipun warung mereka kecil namun kenikmatan makanan sang chef yang kebetulan adalah sang pemilik sendiri sangat disukai oleh para pelanggan. Si Chef yang bernama Pi Song (Pi berarti Abang/kakak perempuan dalam bahasa Thailand) berumur kira-kira 38-an, demikian juga istrinya yang bernama Pi Deng. Mereka berdua sudah layaknya saudara bagiku. Karena aku tidak meminta gaji, merekapun memberiku makan gratis kapanpun aku mau.

Jum dan aku bertemu di warung Pi Song, yang kebetulan Jum bekerja di sebuah toko antik yang pemiliknya kakak kandung Jum sendiri.  Dari sinilah awal persahabatan kami di mulai. Dan dari Jum, aku mengenal Ibunya Jum; yang bagiku beliau adalah seorang ibu ‘trend’ masa kini.  Hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama, dan meskipun Jum statusnya bekerja namun Ibunya Jum tidak keberatan aku bermain di toko seharian. Bahkan beliau pernah berkomentar: “Ibu senang sama kamu, jarang ada wanita  asia muda travel sendirian, dan tetap menjaga diri”. Mungkin penilaian beliau didasarkan atas perbandingan bagaiamana anak-anak muda di Thailand berperilaku di daerah yang dipenuhi turis. Well, bukan berarti aku tidak suka bersenang-senang, atau pergi ke party. Akupun layaknya seperti anak muda yang lain, bukan seorang geek yang hanya senang menghabiskan waktunya untuk belajar.  Yang terpenting buatku adalah dapat beradaptasi dengan lingkungan tanpa harus terinjeksi pada hal-hal yang negatif dalam lingkungan tersebut.

Penilaian beliau tentunya adalah sebuah apresiasi bagiku, disamping beliau adalah orang tua yang baik, beliau juga seorang  pengusaha wanita yang sangat disegani didaerah tersebut. Aku bisa merasakan bagaimana beliau memperhatikanku, tidak jarang beliau membelikanku makanan, bahkan makanan kesukaanku, dan menjengukku ke bungalow. Kamipun sering menghabiskan waktu di cafe hanya untuk mengobrol. Biasanya kalau sudah di Cafe, Ibu akan memesan chaweng beer kesukaanya dan kacang polong, dan aku sendiri memesang cocktail atau juice.

Kedekatan  kami kiranya membuat Jum sedikit cemburu, dan aku bisa merasakannya.  Sikap Jum tidak lagi sehangat beberapa bulan terakhir. Rupanya Jum ingin menyampaikan rasa ketidak-senangannya terhadap kedekatan kami dengan caranya yang menurutku sedikit childish…

Siang itu, seperti biasa aku datang ke toko dengan membawa sinyal ‘damai’  ke Jum — dengan memberikan senyum selebar mungkin dan sapaan hangat aku mengajak Jum pergi ke Pantai Lamai untuk berenang. Jum menerima tawaranku dengan setengah segan, antara mau dan tak mau. Tak lama kemudian, kamipun berangkat ke Pantai Lamai. Tiba di pantai Lamai, kamipun berjemur dengan menggunakan bikini yang kami beli bersamaan disebuah toko di Pantai Chaweng. Tak lama kemudian seorang penjual aksesoris menghampiri kami, karena kami berdua terlihat seperti asia, sang penjualpun mengira kami adalah turis lokal — namun setelah mendekat dan mendengar percakapan menggunakan bahasa Inggris, sang penjualpun minta maaf; kukatatakan kepada sang penjual bahwa aku bukan dari Thailand, dan menunjuk Jum adalah yang asli Thailand.

Percakapanpun terjadi selang beberapa menit diantara aku, Jum dan sang penjual. Dengan lugunya sang penjual menyentuh tanganku dan mengatakan: “You are beautiful lady, and your skin so nice”. Tentu saja ku ucapkan terimakasih atas pujiannya. Namun aku terkejut saat Jum mengomentari: “My skin is so nice too!”. Aku hanya berpikir Jum sedang bercanda saat itu. Meskipun wajahnya menunjukkan keseriusan dan ketidaksenangan saat itu.

Dalam perjalanan pulang ke Chaweng, kami berhenti di sebuah restoran yang berada tepat di sebuah tebing dengan panorama pantai begitu menyejukkan. Namun pemandangan tersebut nampak tak nyaman bagiku karena kulihat Jum menunjukkan sikap jelas yang tak bersahabat kepadaku. Berpikir bahwa Jum sedang tak enak hati kubiarkan dia bersikap seperti itu…..

Sekembalinya dari Pantai Lamai kami tidak pernah bertemu lagi, dan aku sendiri tidak ke toko. Tentunya ini membuat Ibu keheranan. Ibupun menyuruh aku untuk pergi ke pantai Chaweng bersama Jum. Karena tak enak hati dengan beliau, akupun mengajak Jum pergi ke pantai;  meskipun ku tahu Jum menyetujuinya juga karena tak enak hati dengan beliau. Kamipun berangkat ke Pantai Lama, dengan Jum dan Anjing keriting kecilnya.

Sikap Jum masih dengan sikap yang sama saat berada di Pantai Lama. Karena heran beberapa hari ini dengan sikapnya yang tak bersahabat itu, akupun langsung menanyakan apa gerangan yang telah membuatnya berubah sikap kepadaku. Dan inilah jawabannya:

“I don’t like you!”

Jawaban yang tidak pernah kusangka. Karena selama ini kami tidak ada masalah sama sekali. Bahkan aku mendukung hubungan Jum dengan Marco agar bersatu, walaupun saat itu Ibu tidak menyetujui hubungan mereka  namun aku berusaha membujuk Ibu agar mau memberikan kesempatan kepada Marco. Karena memang kupikir Marco adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab meskipun Marco bukanlah seorang pria mapan….

DBLN, 15.04-150410

Iklan

2 thoughts on “Aku, Jum, Dan Pantai Chaweng Koh Samui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s