Day 1 – Selamat Datang Di Penang

Memandangi lautan lepas serta melihat kedalam jernihnya air laut hingga terlihat tumbuk karang di dalamnya membuat sel-sel otakku yang sempat kusut menjadi lurus kembali. Kapalpun mulai merapat masuk ke pelabuhan Penang. Beberapa orang sudah bersiap-siap dengan barangnya masing. Mayoritas orang-orang yang sekapal denganku adalah wanita-wanita dan pria muda yang kemungkinan hendak bekerja di Malaysia.

Aku dan penumpang kapal lainnyapun berjalan menuju kantor imigrasi Malaysia.  Pikiran segar yang sempat ku dapatkan dari pemandangan cantik di laut kontan saja hilang ketika ku lihat antrian yang cukup panjang di kantor imigrasi Penang. Terlebih lagi ku lihat para penumpang dengan barang-barangnya yang seperti mau mengungsi  serta aroma bau yang bercampur aduk layaknya pasar tradisional  menimbulkan rasa pusing yang tak karuan di kepalaku. Namun disinilah uniknya jika kita mengadakan travel, selalu mendapatkan suka duka dan hal-hal yang baru.

Sambil menanti giliranku untuk pengecekan paspor, akupun berusaha mengambil alih perhatianku pada pemandangan yang melelahkan mata dan menyegarkan rasa mualku dengan mendengarkan MP3ku. Sahabat travelku Gaz berdiri tepat didepanku dan di depan Gaz berdiri seorang wanita muda memakai jilbab yang jauh lebih muda daripada aku.  Ku lihat wanita muda itu sedikit gugup ketika tiba di pengecekan paspor Pegawai imigrasi yang sepertinya terlihat campuran peranakan India itu memperhatikannya dengan seksama. Karena tertarik dengan pemandangan antara si pegawai Imigrasi dan wanita muda itu, akupun melepaskan earphone MP3ku. Mungkin karena telihat gugup atau mungkin juga karena terlihat begitu muda, wanita muda itupun mendapatkan interogasi yang menurutku cukup lumayan lama. Ketika sang pegawi menanyakan “Berapa kamu punya uang?” (dalam aksen melayu), wanita muda itupun dengan lugunya mengeluarkan segera uang lembaran kertas dan recehan dari kantong baju dan dompetnya. Pemandangan kini terlihat sedikit iba untukku.

Aku mengira wanita muda tersebut adalah seorang tenaga kerja wanita Indonesia. Sang pegawaipun sedikit terlihat canggung atau mungkin juga malu begitu melihat wanita muda tersebut mengeluarkan langsung uang yang dimilikinya. Entah ini pertama kalinya atau tidak, namun aku mengira bahwa wanita tersebut sudah salah paham maksud dari pertanyaan si pegawai.

Pada umunya jika kita berpergian keluar negri pada saat pengecekan paspor, sering sekali kita ditanyakan tentang financial kita. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kita sanggup membiayai diri kita sendiri selama di neagra tersebut. Dan biasanya format pertanyaannya adalah: Berapa kamu punya uang. Dan kita cukup memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin di beberapa negara yang ketat sekali seperti saat ini di Australia, mereka akan mengecek secara detail keuangan kita dalam bentuk bukti print rekening bank.

Setelah hampir 15 menit menunggu si pegawai berinterogasi ria dengan si wanita muda itu, tiba giliran sabahatku Gaz untuk diperiksa. Kali ini berbeda dengan wanita muda itu, Gaz hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari sekitar 1 menit!

Selama aku sering melakukan travel ke berbagai daerah dan negara, aku jadi sering memperhatikan hal-hal yang sekecil apapun, bahkan yang tidak penting sama sekalipun kadang aku harus menulisnya di note. Tapi justru dari sini terkadang aku mendapatkan sebuah ilham besar yang dapat kujadikan sebuah kegiatan yang menarik, salah satunya ya ini, menulis di blog khusus untuk travel.

Setelah Gaz berlalu, sekarang tiba untuk pasporku diperiksa. Sang pegawai memperhatiku sekilas, seperti pegawai imigrasi sebelumnya di Medan, sang petugas memintaku untuk membuka topiku. Setelah ku buka sang petugas kembali membuka-buka pasporku. “Berapa punya uang?” pertanyaan yang sama di ajukan kepadaku (tapi tidak ditanyakan ke Gaz), “6 juta” jawabku pelan. “Tidak cukup untuk disini” balasnya lagi dengan sedikit nada sombong “I know, but only I stay in here for 4 days. I think that’s enough” jawabku yang kali ini dengan bahasa inggris, entah kaget karena jawaban dari bahasa inggrisku atau dengan nada tegasku, suara sang petugas akhirnya kembali melunak. “Itu siapa?”, sambil menunjuk sahabatku Gaz. Akupun mulai tidak menyukai pertanyaan tersebut, dengan sedikit nada tak senang akupun menjawab: “Not your business”. “Hati-hati ya kalau belum menikah” Kali ini respon-nya dengan sedikit senyum pria buaya darat. Dengan tidak menjawab lagi pertanyaan konyolnya itu, akupun berlalu tanpa mengucapkan terimakasih (biasanya aku selalu mengucapkan terimakasih pada pegawai imigrasi setelah memberikan pasporku), bahkan tidak melihat wajahnya sekalipun.

Dengan sedikit bersungut menampakkan kekesalan wajahku pada Gaz akupun berlalu dengan cepat dari imigrasi. Ku lihat para pegawai imigrasi mengecek kembali barang-barang dari penumpang yang berangtkat berangkat bersamaku. Herannya mereka tidak mengecek tas travelku dan Gaz. Karena sudah begitu lelahnya melakukan perjalanan, akupun tidak mau berpikir panjang tentang hal itu. Namun sempat ku menaruhnya dalam note ketika kami menuju kota Penang.

Tidak pernah tergambar dalam imaginasi ku seperti apakah Penang itu…….

DBLN, 17.43-141109

Iklan

2 thoughts on “Day 1 – Selamat Datang Di Penang

  1. Aduh, senengnya Jeng Sri… jalan-jalan mulu… sementara diriku terkurung dalam rutinitas yang menjemukan… bahkan sekedar ber-Bw-ria pun sangat sulit akhir-akhir ini…
    Teruslah menikmati perjalanan Jeng… daku turut berbahagia walau hanya ikut membaca ceritamu saja…
    Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s