Guci Di Kaki Gunung Slamet

Picture 031Penasaran yang dalam membuatku semakin tidak sabar lagi untuk melihat ‘kecantikan’ alam yang dimiliki oleh Guci. Ternyata mobil losbak terbuka yang kutumpangi tidak menghantarku sampai ke Guci, dari pasar lokal aku masih harus menyambung perjalanan. Sore itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kabut dan udara dingin dari kaki gunung Slamet membuatku sedikit menggigil. Jaket yang tidak begitu tebal yang aku pakai tidak mampu menahan dingin yang menyerang tubuhku.

Pada sebuah persimpangan aku diturunkan oleh sang supir. Kulihat tidak ada satupun manusia disana dan beberapa kendaraan pun tidak terlihat, hanya satu dua saja. Setelah gelap hampir menghampiri barulah aku mendapatkan tumpangan mobil.

Gelap sudah merambat meninggalkan mentari sore. Tak bisa kulihat lagi pemandangan disekitarku karna kegelapanPicture 029 yang menyelimuti dan hanya diterangi oleh lampu dari mobil. Yang aku rasakan mobil yang kutumpangi menuju sebuah perbukitan seperti puncak.

Pukul 8 malam sampailah aku pada sebuah vila kecil. Tak banyak cahaya lampu yang menyinari daerah sekitar tersebut. Hanya sang supir mengatakan bahwa vila ini berada tepat dibawah kaki gunung Slamet. Aku bisa merasakan hawa dingin yang semakin menusuk-nusuk tulangku. Setelah membayar ongkos pada sang supir akupun beranjak menuju ke vila tersebut.

Keadaan yang begitu sepi ditambah dengan temaram cahaya yang tidak begitu terang membuatku langkahku sedikit tertatih2. Kulihat seorang pria seumuranku menyapaku. “Malam mbak, Mau nginap ya mbak”? katanya dengan keramahan khas seorang jawa.

Setelah mengurus keperluan untuk check-in akupun dihantar ke kamarku. Ternyata kamar tersebut sangat nyaman, dan menurut supir yang menghantarku vila tersebut adalah vila yang terbaik di daerah kawasan Guci. Untuk ukuran harga Jakarta mungkin akan lebih mahal untuk vila seperti itu. Beruntunglah aku hanya mendapatkan harga yang setidaknya masih bisa kujangkau.

Picture 034Kepenatanku seharian dalam perjalanan sudah tidak bisa kubendung lagi untuk merebahkan tubuhku ke kasur empuk dengan bantal yang super lembuh di lapisi sarung dan sprei yang serba putih. Kenyamanan kamar membuatku jatuh tertidur nyenyak dengan  mimpi indah…

Suara kokok ayam dari perkampungan di  sekitar vila tersebut membangunkan aku pada pukul 6 pagi. Walau dingin menggigul kusambut pagi itu dengan semangat dan planning yang sudah tertulis dalam agendaku.

Begitu kukeluar dari vila kamar….

Ya Tuhan!!! Pemandangan super,super,super,super luar biasa indah telah terpampang didepanku! Aku hampir tidak bisa bergerak saking kagetnya melihat pemandangan didepanku. Kolam renang yang lumayan besar tepat berada didepanku dengan air hangat yang langsung mengalir dari kaki Gunung Slamet. Kabut masih sedikit menyelimuti pagi itu, namun setelah lamat laut matahari mulai menunjukkan sinarnya dan menambah kecantikan alam sekitar Guci yang terletak diKaki Gunung Slamet itu.

Dengan semangat dan penasaran akupun mulai merambah ke pedesaan di daerah Guci. Ada beberapa pemandian yang air panasnya langsung mengalir dari Gunung Slamet. Aku sendiri lebih tertarik untuk mandi di pemandian yang tradisional dengan penduduk sekitar, disamping air yang alami sekali struktur bangunan pemandiannya membuatku seperti seorang bidadari yang sedang mandi di telaga. Ah, nikmatnya…..

Setelah hampir 3 jam-an berkeliling desa dibawah kaki gunung Slamet akupun kembali ke Vila dan mempersiapkan diri untuk mencari makanan nikmat ala Guci.

Ah, aku rindu. Aku mau kembali kesana. Suatu hari aku akan kembali. Ya ,suatu hari.

DBLN, 20.57-120509

Iklan

23 thoughts on “Guci Di Kaki Gunung Slamet

  1. ada gak angkutan umum dari moga ke guci?
    kalo ada ongkos nya berapa?

    Hi Rizky,

    Ada angkutan umum dan Ongkos dari Moga ke Guci gak begitu mahal kok. Mungkin sekitar Rp 20 ribu. Dua kali naik dari Moga ke Guci.

  2. jadi inget 7 tahun yang lalu saat saudaraku nikah dapet orang tegal, saat itu kita sekeluarga besar nginep di guci semua…..
    dan setelah 7 tahun berlalu, ternyata aku nyusul juga, karena nikah sama orang tegal…. hehehe

    btw, sudah pernah ke wonosobo mba? disana banyak juga view yang dasyat lho….

  3. Betul banget Guci itu indah buangeeettttt….. aku juga pernah kesana sempet juga mandi-mandi. Tiga hari disana rasanya kurang puas karena Guci ga akan pernah ngebosenin, sekarang aku sedang berada di Aceh tepatnya di Takengon di dataran tinggi gayo yang terkenal dengan Danau laut tawarnya dan udaranya yang dingin tapi tetap aja aku kangen banget pengen kembali ke Guci lagi.

  4. Wah asik yaa kalau ke Guci, saya belum pernah ke sana
    Tahun 1990 sd 1994 pernah tugas di Purwokerto, di sana yaa sering ke kaki Gunung Slamet tapi di Baturaden. Saya sempet ikut pendakian di Gunung Slamet, tapi sekarang wah dah nggak berani ….

    Mbak kenapa yaa komentar kok nggak diaktifkan?? Padahal saya seneng lhoo berkomntar dengan tulisan2 nya, kalau saya nggak setuju yaa akan saya sampaikan argumentasi versi saya

  5. Mbak, berkunjung yah…lama nggak singgah..btw Mbak kapan sih jalan2 nya? Apa ini cerita kunjungan lalu baru ditulis sekarang atau baru saja pulang dari sana?

  6. aku dilahirkan ditempat yang tak jauh dari gunung slamet……….
    tapi aku sendiri belum pernah kesana……
    cerita jengsri mengalir seperti hangatnya air panas yang mengalir ke vila……
    membuatku ikut merasakan indahnya Guci………

    welkambek…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s