Yang Masih Tersisa Di Mataram

picture-118

Inilah salah satu kekayaan Indonesia, memiliki banyak peninggalan nenek moyang bersejarah. Bangga kan? sudah pasti bangga dong.

Yang aku kunjungi kali ini di Mataram beda dari yang lain. Jangan dibayangkan peninggalan bersejarah ini terdiri dari banguna indah. Peninggalan bersejarah yang kukunjungi adalah sebuah perkampungan yang bangunannya masih terdiri dari kayu! Keunikannya adalah perkampungan yang tidak begitu besar ini masih menjaga sisa2 kebudayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya Mataram yang sudah ribuan tahun.

Wah! Bisa dibayangkan kan, bagaimana kukuhnya penduduk yang ditinggal di perkampungan tersebut? Di jaman yang sedang edan2nya berlomba2 membangun rumah yang mewah, ternyata masih ada segelintir orang yang mau menjaga kebudayaan nenek moyang kita.

Dengan beberapa turis yang lain kami memasuki perkampugan tersebut. Dengan membayar Rp 2,500 untuk masuk keperkampungan itu aku dan turis yang lainnya di boyong menuju kepedalaman kampung itu. Hampir tidak bisa dipercayai bahwa ketika kami masuk kedalam, pikiranku seketika melayang jauh saat jaman batu. Tidak adapun aspal yang menghiasi tanah perkampungan itu. Tanah merah keputih2an terhampar disepanjang jalan dan sekitar perkampungan itu. Apalagi rumah2 penduduk yang asli terdiri dari jerami2 kering dan kayu bambu.  picture-120

Dengan seorang tour guide kami dibawa masuk kesebuah rumah yang didalamnya terdapat perabotan2 kayu. Tempat tidur, dapur dan ruang tamu mereka terpisah hanya dengan sebuat jerami kering.

Jama dahulu di perkampungan ini ada sebuah adat bagi seorang wanita yang akan dinikahkan, orang tua sang gadis akan menyimpan sang gadis di tempat kamar yang kecil dan gelap. Waktu aku melihat kamar tersebut, hampir tidak bisa dipercayai bahwa kamar kecil dan gelap tersebut untuk menyimpan seorang manusia!

Hampir satu jam lebih kami di ajak keliling menikmati perkampungan itu. Dan kebanyakan penduduk disana mempunyai perkejaan membuat aksesoris yang kemudian dijual didaerah yag ramai dengan turis.

Beberapa anak kecil berlarian mengikuti dibelakang kami. Sehingga terkesan kami seperti seorang selebritis ditengan siang bolong!

picture-122 Walaupun saat itu matahari panas menyengat kulit kami (khususnya kulitku yang sudah menghitam!), namun keunikan kampung dan keramahan penduduk serta anak2 yang lucu itu, rasanya membuat rasa kepanasan dan lelah kami hilang. Terbukti aku dengan beberapa turis lainnya asyik mengambil photo dan sesekali bercanda dengan anak2 tersebut.

Walaupun sudah mengelilingi dan hampir satu jam lebih berada disana namun terlihat beberapa turis lainnya dan aku sendiri masih penasaran untuk berada disana lebih lama.

Terpaksa kami bawa rasa penasaran itu sampai pulang….

DBLN, 13.23-030309

Iklan

13 thoughts on “Yang Masih Tersisa Di Mataram

  1. Wah pernah ke Lombok Mataran ya? salam kenal ya? Waktu ke Lombok mampir tidak ke Dusun Sade? Melihat tradisi mengepel lantai rumah dan dinding dengan kotoran kerbau/sapi. Juga melihat keramaian Nyale, tradisi menangkap cacing laut di perairan laut dangkal atau ke Gunung Rinjani ya. Semua begitu indah suatu kearifan tadisi masyarakat setempat.

  2. Salam Kenal mbak Sri,

    Saya baru membaca beberapa tulisan anda yang sangat menyenangkan dan akrab. Saya menikmati membacanya. o iya, bolehkah saya tau apakah anda seorang fotografer atau penulis atau wartawan? sebab foto-foto yang anda muat bagus sekali. Saya ingin memotret dan bertandang ke negara-negara lain seperti Anda.

    Terima kasih

    Terimakasih Mbak Yauma sudah mampir ke ‘gubuk’ku. Saya hanya seorang blogger yang lagi belajar menulis, photo2nya hanya sekedar hobby mengambil photo ;).

  3. Hmm….Tau ajah jeng sri neh….keinginanku, suatu saat nanti klo dah merid, bulan madu ke mataram…

    Makasih dah kasih gambaran….

    (tadi dah komen kok gak masuk ya…?)

    Wah pilihan yang tepat bang buat bulan madu bang ;).
    Tuh dua2nya dah masuh komennya.

  4. Indonesia yang beragam budaya, harusnya menjadi kekuatan bukan alasan untuk ber-konflik. Modernitas bukan berarti harus meninggalkan jatidiri (budaya) to…??

    Untuk mengejar Negara maju dalam industri masih jauh diawang2, kenapa tidak diberdayakan keunggulan bangsa ini berupa budaya asli yang justru mereka (negara maju) kagumi….?

    Btw, kebetulan, keinginan ku ntar klo bulan madu ke mataram…….Makasih dah kasih gambaran jeng……

    Opini yg simple dan perlu didenger sama pemerintahan setempat dan pusat. Mudah2an ada pejabat yg nyasar diblogku dan baca komenmu bang ;).

  5. hmm…kalau sudah melihat foto2 tsb….saya hanya berpikir, tidak hanya penampilannya yang tak tersentuh dunia modern..tapi jangan2 pula kesejahteraannyapun demiakian…
    semoga tidak….

    Semoga tidak Bang boy….

  6. semoga keindahan, keunikan dan keramahan ini bisa bertahan. sebab cobalah dengar Sri, beton-beton hotel dan mall di kejauhan sedang bergemuruh mendekat ke setiap tempat yang eksotik, dengan hasrat tak terbendung mereka datang membawa keindahan baru beserta manajemen yang konon menurut mereka lebih menguntungkan. tapi entah siapa yang sebenarnya diuntungkan.

    Betul bang Nanoq. Alam sudah tersingkir oleh kamajuan (atau keserakahan?). Yang jelas tidak ada yang diuntungkan karena kalau alam tersingkir dari bumi ini maka manusia juga ikut tersingkir. Seperti global warming yang sekarang terjadi. Menyedihkan ya…

  7. Hebat yah mereka begitu kuatnya memelihara yang sudah menjadi ciri khas budaya, salut! Jengsri linknya sudah saya add, dan makasih sudah mampir keblog Abi dan salam kenal:)

    Iya Mas Abi, aku juga sampe gak percaya waktu ada disana. Makasih kembali udah mampir juga :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s