Akhirnya ke Gili Trawangan…

picture-098

“Sesungguhnya DIA ada saat kita melihat keindahan hasil ciptaanNYA dimuka bumi ini..”

Waktu aku melihat-lihat gambar indahnya Gili Trawangan pada sebuah majalah yang kudapat dari sebuah agen travel, akupun tidak bisa membendung lagi keinginanku untuk segera berada dipulau kecil dan indah tersebut.

Seperti yang pernah kuceritakan pada kisah sebelumnya (Baca: Menuju Lombok) bahwa aku ingin mengirit uang, untuk itu aku tidak memesan paket travel melalui agen. Namun percayalah, manfaatkan agen travel sebaik-baiknya jika kita belum pernah menginjakkan daerah yang belum pernah kita datangi. Karena kalau tidak akan mengalami hal yang sama seperti aku! Banyak bertemu dengan orang yang suka memanfaatkan situasi keadaan!

Dengan sebuah agen yang tidak resmi dari seorang teman yang kukenal bernama Arwo ini (Yang sebenarnya Arwo sendiri bekerja hanya untuk mengambil persenan dari pihak agen yang tidak resmi ini), dengan biaya sekitar Rp 250,000 (Lebih mahal dari agen resmi), aku, Arwo, dan sang supirpun menuju ke pelabuhan Gili Trawangan.

Sesampainya sebuah tempat yang orang disana menyebutnya sebagai sebuah terminal. Namun aku tidak melihatnya banyaknya mobil, mungkin lebih mirip disebut sebagai terminal delman karena banyaknya delman yang terdapat disana.

Dengan masih-masih terheran-heran karena aku tidak melihat pelabuhan dekat daerah situ akupun bertanya kepada kedua pria yang menghantarku.

“Pelabuhannya dimana Mas?”  tanyaku sambil terhera-heran.

“Oh masih agak jauh disini Mbak. Mbak harus naik delman lagi dari sini” Kata sang sopir.

Digeluti rasa penasaran dan heran kenapa mereka tidak menghantarkan aku sampai ke pelabuhan. Akupun menanyakan janji mereka yang mengatakan akan mengantarku sampai pelabuhan. Dengan dalih macam-macam dan satu alasan itu adalah tempat pemberhentian terakhir untuk mobil, akupun tidak mau banyak bicara untuk mengomentarinya. Disamping malas, juga karena aku sudah mencium adanya kesepakatan antara pihak setiap mobil dengan para pekerja disana.

Ternyata kulihat beberapa turis lain yang menggerutu dan komplain tentang hal yang sama yang kualami. Maka aku dan beberapa turis lainpun terpaksa memesan delman dengan harga Rp 10,000.

Kalau memang peraturannya seperti itu, aku tidaklah keberatan untuk di turunkan di terminal tersebut dan mengambil delman untuk menuju ke pelabuhan. Namun yang membuat aku sedikit keki adalah saat aku dan turis yang lainnya tahu bahwa jarak antara terminal dan pelabuhan sangat dekat. Yang sebenarnya kami bisa berjalan kaki!

***

Selama diperahu yang berukuran sedang itu, aku hanya menikmati keindahan birunya laut. Ombak yang bergerak lembut dan sesekali airnya menampar wajahku membuatku ingin terjun kedalam lautan luas dan biru tersebut dan berenang hingga ke Gili Trawangan.

Begitu sampai di pelabuhan Gili Trawangan yang kecil  kulihat sebuah tanda yang melarang para turis telanjang. Maklumlah Mataram terkenal dengan pulau seribu mesjidnya, tentunya masyarakat disana ingin menjaga nama yang sudah menjadi predikat kepulauan Mataram.

Dengan disambut seorang pria berbadan kurus dan berkulit sawo matang seperti aku. Dia langsung menyambut tas rangselku. Dengan mencoba bersikap tidak menyinggung perasaanya aku menolak pertolongannya. Disamping aku karena aku ingin mengirit pengeluaran, aku merasa bahwa aku masih sanggup membawa tas ranselku.

Ternyata walaupun sudah menolaknya dengan halus pria tersebut masih saja mengikuti disampingku. Akupun merasa tidak enak dengannya. Lagipun melihat caranya yang sopan dan mengajak berbincang-bincang padaku dan dengan pernyataannya yang polos serta lugas: “Jangan khawatir Mbak, saya orang baik. Saya cuma membantu dan menawarkan penginapan sama Mbak kalau Mbak belum dapet hotel”. Kalimat dia  membuatku mau tak mau harus menerima pertolongannya untuk membawakan tasku dan mengantarku ke tempat penginapan sekitar pulau tersebut.

Setelah beberapa kali memilih tempat penginapan yang cocok akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah tempat penginapan yang kecil. Agak mirip disebut bungalow kecil. Karena bentuknya kamarnya yang terpisah-pisah dari kamar yang lain. Nampak nyaman kalau dilihat saat siang hari namun aku sedikit ragu kalau menjelang malam.

**

Kamarnya lumayan luas untuk ukuran satu orang. Tidak banyak kamar bungalow ditempat penginapan tersebut, mungkin sekitar 15-an kamar. Ada sebuah warung kecil didepan pintu masuk ke Bungalow tersebut, yang juga di hiasi dengan semacam gardu dari kayu kelapa. Diluar Bungalow dihiasi rumput hijau yang sedikit tidak teratur.

Menjelang sore aku menyempatkan diri jalan-jalan sepanjang pantai Gili Trawangan. Tak kulihat satupun kendaraan berbensin disana. Yang ada hanya delman dan sepeda. Benar-benar pulau yang bebas dari polusi. Cukup banyak penginapan di Gili Trawangan walaupun pulau ini kecil namun banyak turis lokal dan manca negara yang datang ketempat ini karena keindahan pulaunya yang luar biasa indah.

Akupun menyewa sebuah sepeda dengan harga sekitar Rp 20,000 untuk satu hari. Dengan sepeda tersebut aku mengelilingi Pulau Trawangan. Lumayan melelahkan. Namun paronama yang nampak seperti surga menghilangkan rasa lelahku. Di tambah dengan penduduk sekitar yang super ramah membuat panasnya terik matahari tak terasa olehku.

*

Malam harinya aku menghabiskan waktu disebuah restaruant yang menurutku cukup unik. Restoran tersebut memilki tempat sendiri-sendiri untuk para tamu yang datang dengan bentuk seperti gubuk kecil terbuka dengan atap ilalang. Dalam gubuk tersebut disedikan sebuah TV lengkap dengan DVD dan film-film yang lumayan bagus. Dengan dekorasi sedikit ala India style menambah kenyamanan restoran tersebut.

Setelah makan malam akupun menghabiskan waktuku direstoran tersebut dengan menonton fil-film yang disediakan hingga pukul 11 malam!

DBLN, 20.31-260209

Iklan

7 thoughts on “Akhirnya ke Gili Trawangan…

  1. sayapun sekarang sedang ada kerjaan di lombok, kalau sempat pasti main ke gili trawangan…

    besok berangkat ke bima

  2. Aku juga udah pernah ke Gili Terawangan empat tahun lalu, wah udah lama ya… Yang jadi ciri khas disana ya cidomo (delman) tapi belom pernah naik cidomo hehehe

  3. sebuah pengalaman yang tentu sangat menyenagkan, walau dengan perjalanan yang tidak terlalu nyaman. dan begitulah sebuah petualangan 🙂

    Betul bang! Walau kadang menyebalkan tapi tetep aja menyenangkan ;).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s