Sahabat KecilKu Dari Ubud

picture-0571

Tujuanku selanjutnya adalah Ubud. Seringkali kudengar tentang Ubud yang terkenal dengan Monkey Forestnya dengan ribuan monyet didalamnya. Jujur, aku tidak menyukai binatang yang satu ini.

Trauma akan pengalaman yang cukup mengerikan ketika aku masih duduk dibangku kelas 5 SD. Saat itu aku sedng bermain di rumah salah seorang teman sekelasku yang kebetulan dia memiliki beberapa hewan piaraan termasuk salah satunya adalah seekor monyet. Monyet yang berukuran kecil ini terikat pada sebuah tali. Aku berpikir bahwa monyet tersebut tidak berbahaya. Namun dugaanku ternyata salah. Mungkin karena terlalu asyiknya bercengkrama dengannya sehingga membuatku lupa akan batas-batas bercanda saat bersama seekor monyet.

Pada  waktu sekian menit tiba-tiba monyet tersebut menyerang dan menggigitku. Aku sendiri tidak bisa menghindari serangan tersebut karena jarakku yang kebetulan berada dekat sekali dengan monyet itu. Akhirnya akupun harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Hingga saat ini bekas gigitan dari monyet tersebut masih membekas dikaki tumit kananku. Aku berpikir: “Lumayan buat kenang-kenangan…” Ya.

Nyatanya menjadi kenanngan yang begitu membuat aku trauma setiap kali melihat seekor monyet.

***

Sampai di salah satu hotel Ubud aku langsung berisitirahat. Hotelnya lebih mirip di sebut sebagai bungalow daripada sebuah hotel. Designya yang begitu traditional ditambah dengan banyaknya pohon disekitarnya menambah kenyamanan hotel tersebut. Setelah beristirahat sejenak sekitar 2 jam-an, akupun keluar dari hotel untuk makan malam. Daerah Ubud yang jalannya seperti disebuah perbukitan sedikit membuatku kewalahan untuk turun kebawah mencari restaurant. Kira-kira sekitar hampir setengah jam akhirnya aku mendapatkan restaurant yang aku inginkan.

Saat kembali ke Hotel perjalanan pulang agak sedikit gelap. Tepat ketika kulewati Monkey Forest kudengar ribuan suara monyet datang dari dalam hutan. Aku yang tidak berpengalaman dengan daerah Ubud dan tidak mengetahui bahwa yang aku lewati adalah Monkey Forest langsung saja lari tunggang langgang dengan ketakutan yang luar biasa. Seseorang yang melihatku dan sepertinya asli dari daerah tersebut menyapaku dengan aksen balinya: “Jangan lari Mbak, nanti tambah dikejar. Biasa aja…”

Bagaimana mungkin aku tidak lari. Pikirku. Suara mereka begitu menakutkan seperti ingin menyerangku.

Sesampainya di hotel akupun langsung beristirahat kembali sambil menikmati acara program TV. Hingga aku jatuh tertidur sampai keesokan paginya.

**

Setelah mendapatkan sarapan dari pihak hotel akupun menyiapkan diri menuju ke Monkey Forest. Masih dengan trauma dari pengalaman digigit monyet, dengan sejuta keberanian yang aku paksakan aku beranikan menuju ke Monkey Forest. Beruntungnya aku mendapat teman seperjalanan saat menuju kesana. Dengan seorang turis yang kebetulan tinggal di hotel yang sama kamipun menuju ke Monkey Forest bersama.

Nampak dari depan gerbang Monkey Forest kelihatan begitu menyeramkan. Pohon besar berdiri kokoh laksana tiang pondasi sebagai istananya para penghuni didalam sana. Kulihat beberapa orang yang berjualan makanan khusus untuk monyet seperti kacang dan pisang. Dengan berbekal pisang dan kacang akupun menuju kedalam istana monyet.

*

Sudah bisa ditebak pemandangan didalam ternyata banyak sekali monyet. Dari berbagai macam jenis monyet dari yang bayi hingga yang paling tua sekalipun ada di istana Monkey Forest ini. Bahkan saat aku mengelilingi Monkey Forest kulihat beberapa monyet yang mengadakan semacam parade, berbaris mengadakan sebuah entah permaina atau apalah, yang tak bisa kumengerti.

Seseorang yang kelihatannya asli penduduk disana memberiku sebuah nasehat untuk tidak mengambil makanan yang sudah diberikan pada seekor monyet. Orang tersebut mengatakan bahwa kemungkinan itu akan membuatnya marah dan menyerang orang yang mengambil makanannya. Karena sudah trauma dengan pengalaman yang membuatku takut dengan monyet. Dan mungkin karena monyet-monyet tersebut bisa membaca ketakutanku, setiap monyet yang kuberikan makanan selalu saja terlihat ingin menyerangku. Akupun menjadi lebih gugup karenanya. Namun aku bersyukur tidak ada satupun yang menyerangku.

Setidaknya aku sudah bisa mengalahkan rasa traumaku kepada monyet dengan menantang diriku sendiri pergi ke istana para monyet.

Terimakasih Ubud telah menciptakan Monkey Forest yang sungguh bernilai harganya.

DBLN, 23.10-180209

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s