Di Balik Puncak Bedugul

indonesia-098

Jam Lima pagi sudah kupersiapkan segalanya. Khawatir akan terlambat dijemput, semalaman aku tak mampu memejamkan mata.

Mobil putih berukuran van sedang sudah tiba didepan hotel. Dua pria tersenyum menyambutku dengan ucapan selamat pagi. Menambah semangat ku untuk melihat keindahan Pulau Bali yang aku impi dan rindukan siang malam. Ingatanku kembali saat pertama kali aku menuju ke Bali. Perjalanan sepanjang Jakarta-Bali dengan bis tidak sedikitpun membuat aku lelah. Hanya semangat membara yang ada dalam pikiran dan hatiku. Entah apa yang membuat aku gila akan kecintaanku ingin menuju ke Bali.

Mungkin karena Bali selalu menjadi tempat favorit utama para Turis. Tidak hanya Turis. Orang Indonesiapun menjadikannya sebagai tempat liburan yang cukup berkelas bagi beberapa kalangan orang Indonesia.

***

Kamipun bergerak menuju keatas daerah Bedugul. Sejuk hawa dingin dari puncak Bedugul sudah terasa dikulitku. Kami berhenti di pasar tradisional puncak Bedugul. Menikmati pemandangan sekitar pasar membuat kami terdiam dalam khayalan masing-masing.

Lalu lalang orang yang berjalan disekitar pasar tidak membuat tempat tersebut terlihat bising dan kotor. Turis dari manca negara dan orang Indonesiapun berbaur dalam warna traditional dari masing-masing daerah. Kamipun menikmati salah satu makanan tradisional Bali.

Perjalanan berlanjut ke tempat penginapan di Bedugul. Akhirnya kudapatkan sebuah bungalow yang  tempatnya tepat berada diatas bukit yang menghadap ke Danau Bedugul.

Luar biasa Indah. Terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata.

Sengaja kupilih kamar yang posisinya paling atas agar kubisa menikmati pemandangan indah.

Perjalanan setapak menuju kamarku sedikit curam dan melelahkan. Namun sungguh aku tak perduli. Aku hanya memikirkan pemandangan itu. Pemandangan yang akan melenakanku dalam sejuta khayal.

**

Duduk merenung di teras kamar memandang jauh kedepan pemandangan yang ada didepan mataku adalah sebuah karunia yang tidak terhingga. Tak sadar aku bahwa selama ini aku tidak mensyukuri. Mensyukuri akan nikmatnya mempunyai mata. Mensyukuri akan nikmatnya mempunyai kaki. Mensyukuri akan nikmatnya apa yang telah Tuhan berikan dalam hidupku.

Ah, betapa sebuah pemandangan telah membuat aku bersyukur akan karuniaNYA.

Akupun berjalan mengitari daerah sekitar bungalow. Hawa dingin namun sejuk dan beberapa turis maupun orang asli sekitar Bedugul menyapa dengan senyum manis dan ramah membuat aku rasa seperti bukan di alam nyata.

Damai dan ramah. Membuatku tak ingin meninggalkan kedamaian tersebut.

Kamera kubidik pada keindahan yang kulihat disekitar Bedugul. Kulihat beberapa orang yang sedang melakukan sembahyangan di sebuah Pura yang tepat berada dipinggir Danau.

Ah, indahnya dunia. Sejuk. Tenang. Damai.

Aku melangkah kembali ke bungalow. Berharap esok aku masih di Bedugul.

DBLN, 16.19-170209

Iklan

3 thoughts on “Di Balik Puncak Bedugul

  1. Hallo Mbak Tia,

    Saran saya Mbak Tia kalau mau ke Bedugul melalui agent travel. Nanti agent travelnya menurunkan Mbak didaerah yang Mbak Tia suka. Tapi biasanya mereka akan menurunkan ditempat pusatnya turis, yaitu dekat pasar tradisional. Tidak jauh dari sana ada bungalow yang tepat menghadap ke danau Bedugul (saya lupa nama bungalownya). Biayanya lumayan murah dan tempatnya bagus sekali.

    Selamat liburan ya ;).

  2. maaf mbak..saya juga ada rencana ke bedugul, minggu depan kl boleh tau menginap dimana ya mbak? soalnya saya masih bingung cari penginapan di bedugul, makasih mbak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s