Fusion Yang Romantis

indonesia-121

Ku buka semua lemari pakaianku. Ku tempelkan jari telunjuk kanan dibibirku sambil  berpikir serius gaun apa yang pantas aku kenakan . Aku terlalu bingung untuk memilih sebuah gaun yang cocok untuk aku pakai untuk makan malam. Sekiranya aku bisa menolaknya makan malam. “Aah..” kataku. Sudah terlambat untuk disesalkan.

Satu jam lagi.

Aku berharap waktu berhenti. Aku sudah kehabisan ide apa yang harus ku kenakan. Nervouskah aku? Tak tahulah aku. Lagipun kenapa pula aku harus merasa nervous. Pikiranku masih bermain-main entah kemana. Mencoba menghilangkan rasa gugup yang kian menjalar diseluru otakku yang membuat badanku sedikit gemetar karena terlalu gugupnya.

***

Tiba aku di sebuah restaurant yang telah dijanjikan. Kulihat dia sedang menungguku. Menyambutku dengan senyum hangat dan sebuah ciuman lembut dipipi. Aduh, gelinya perasaan pipiku dicium. Akupun tertawa geli dalam hati karena inilah pertama kalinya terasa seperti putri abu yang berubah menjadi cinderela.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Yang kupikir tadi dan kuingin pula waktu berhenti. Namun tidak saat ini. Aku ingin waktu jangan berlalu dengan cepat. Aku takut mendengar jam dentengan dua belas kali yang akan merubahku menjadi putri abu kembali. “Alah.. kenapa aku ini?” pikirku seperti putri abu yang dungu. Atau memang benar-benar dungu.

Akhirnya akupun harus membiarkan waktu membunuh angan-angan romantisku yang baru saja berkembang biak dalam setiap sel otakku.

**

Masih dengan mendengarkannya bicara dan sikapnya yang luar biasa lembut. Bahkan aku tidak mendengar apa yang sedang dia bicarakan. Aku hanya mendengar suara dan melihat sikapnya lembut. Pikiranku melayang jauh keluar batas impian. “Mungkinkah dia seorang pangeran yang sedang mencari cinta sejatinya…” kata pikiran dalam anganku.

“Hayo, jangan ngawur lagi kamu..” reality menyapaku. Bukan, bukan menyapaku tapi menamparku.

“Kalau memang dia pangeran yang sedang mencari cinta sejati, terus kamu mau apa?” Lagi reality menamparku. Kali ini lebih keras. Dan sakit.

**

Tiba di teras rumah kami sama gugup. Diapun dengan lembut mengucapkan selamat malam dan mencium pipi kananku. “Cihuyyy!” batinku berteriak. Berhambur kedalam rumah seperti seseorang yang baru saja mendapatkan lotre satu milyar pounsterling.

Lebih dari itu.

Aku bercermin dan duduk didepannya. Merenung kebahagiaan yang baru saja kudapat. “Apalagi selanjutnya…” tanyaku pada khayalan cermin.

“Bangun dari mimpi!” Teriak reality menamparku sekali lagi.

DBLN, 17.170209

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s