RSS

Arsip Kategori: Thailand

Tak Seharum Mawar

Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin menghabiskan sisa waktu hidupnya di Thailand. Kecintaanya pada Thailand telah melebihi kecintaanya pada tanah airnya sendiri.  Tentunya tak heran jika hal ini dikatakan oleh seorang western; yang notabene kehidupan sosial masyarakatnya kurang dari cukup, dan ini menurut pandangan dan pengalamanku sendiri bagaimana masyarakat western rata-rata menghabiskan waktunya dengan kesibukan aktifitas. Tentunya ada beberapa minority yang memiliki society, dan minority ini biasanya terdiri dari orang-orang tua.

Tak heran juga kalau ia mengatakan seperti itu, karena, John yang berasal dari Inggris itu sudah berumur kira-kira 70 tahun-an, dan juga memiliki istri berasal dari Thailand. John mempunyai alasan kuat untuk mencintai Thailand melebihi kecintaanya pada tanah airnya sendiri. Namun diantara alasan-alasan kuatnya itu, aku menangkap sesuatu yang John tak dapatkan selama di negeri mawarnya itu, yaitu ketulusan.

“Thai people always smiling though they only have one bath (seratus rupiah) in their pocket” — kata John suatu hari padaku dalam percakapan kami di salon  usaha istrinya John.

Memang benar yang dikatakan John. Kemanapun ku pergi ke daerah Thailand, mereka selalu menyambutku dengan senyum ramah.

Tapi tidak dengan yang satu ini…

Jum. Sejak kata terakhir “I don’t like you” yang ia lontarkan padaku, kami tidak pernah lagi bicara satu sama lain. Akupun membiarkan Jum dalam “kemarahan”nya yang sungguh childish itu. Hingga aku menuliskan ini, aku tidak tahu apa yang menyebabkan Jum marah padaku.

Ibunya Jum rupanya bisa mencium apa yang sudah terjadi diantara kami. Dan memang sangat mudah untul dilihat, karena biasanya kami selalu bersama (aku, Jum, dan Marco). Suatu hari Ibu mengunjungiku, dan seperti biasa membawakan croissant untukku.

“I’m really sorry about Jum. I don’t know what to do. She’s older than you, but she behave like a baby” –  ujar Ibu dengan raut wajah yang sungguh aku tak enak untuk memandangnya. Ibu nampak sedih atas keretakan hubungan kami. Dan hal ini membuatku jadi marah sama Jum, karena tidak seharusnya dia membuat Ibu seperti itu.

Kunjungan Ibu ketampatku adalah kunjungan untuk ucapan selamat tinggal karena Ibu dan Jum akan kembali ke Chiang Mai *Jarak Chiang Mai ke Koh Samui sama seperti jarak Jakarta ke Bali.

Berpikir bahwa aku mungkin tak bisa bertemu Ibu lagi, akupun bergegas menemui Jum; tepat saat mereka sedang berkemas mengangkut beberapa barang ke mobil, aku menyapa Jum dan mengajaknya untuk berbicara sebentar, namun Jum tidak mengindahkanku sama sekali, bahkan didepan Ibu sekalipun. Ibu adalah sosok wanita yang sangat penyabar dan bertutur lembut; namun sikap Jum yang terang-terangan menunjukkan permusuhan padaku didepan matanya rupanya sudah melewati batas kesabarannya. Selama mengenal Ibu 3 tahun, pertama kali aku melihat Ibu marah dengan muka memerah dan berkata keras.

Entah apa yang dikatakan Ibu pada Jum karena Ibu menggunakan bahasa Thailand; namun yang pasti sesuatu yang membuat Jum harus menuruti perintahnya.

“If you angry with me, that’s fine. But don’t too obvious in front of your mom” — hanya pendek kalimat itu yang ku ucapan pada Jum. Panjang lebar kalimat tidak akan membuat Jum berubah. Hal yang paling efektif adalah dengan cara membiarkannya “bahagia” dengan kemarahannya.

Tepat pada malam tahun baru 2006. Sebuah sms masuk ke hpku: “Happy new year. With love, Jum and Marco”.

Persahabatan memang tak harus berjalan mulus; sama halnya seperti hubungan sepasang kekasih: beda kepala sudah pasti beda isi. Namun cukuplah perbedaan yang nampak dari sisi luar itu menjadi batasan   untuk kita dalam sebuah hubungan untuk mencari  persamaan dalam Cinta. Tidakkah hanya cinta yang mendamaikan segala angkara murka? Karena hanya cinta yang memiliki ketulusan dan tak ada yang bisa menandingi ketulusan betapapun berat rintangan yang sedang di hadapi….

Teruntuk Jum,

DBLN, 22.47-090510

 
5 Comments

Posted by pada Mei 9, 2010 in Thailand

 

Aku, Jum, Dan Pantai Chaweng Koh Samui

Tidak heran Thailand menjadi pusat liburan utama bagi para ‘westerns’ dari manca negara — dan tidak heran juga kalau pantai Koh Phi-Phi yang cantiknya luar biasa tersebut jadi lirikan seorang produser hollywood untuk dijadikan sebuah film ‘Beach’ yang dibintangi oleh sang aktor tampan Leonardo. Dan tidak hanya disitu, hirup-pikuk kota Bangkok serta beberapa daerah dibagian terpencilpun menjadi sasaran produser Holloywood.  Inilah Thailand, sungguh sebuah ‘kerajaan’ unik dan menakjubkan — pesona alami penduduk dan sumber daya yang menggugah hati —  dan sebuah sumber inspirasi yang tak habis ….

Pulau Koh samui hanyalah sebuah pulau kecil, namun kekecilan pulau ini memiliki potential daya tarik bagi turis lokal dan manca negara. Bahkan saat aku berada di pulau ini pada tahun 2005 , anak tertua dari Raja Thailand menghabiskan waktu seminggu di pulau ini untuk berlibur.

Pantai Chaweng adalah salah satu pantai di Koh Samui yang banyak dikunjungi oleh para kaum turis. Dan pantai Chaweng ini juga menjadi salah satu tempat liburan favoritku di Thailand. Selain pantai Chaweng, ada juga pantai Lamai, tempat ini sangat nyaman dan bagus untuk para penulis buku, karena kesunyian serta panoramanya yang sangat menggoda untuk menggali inspirasi kita.

Dipulau Koh Samui ini juga aku menemukan beberapa sahabat, diantaranya adalah Jum. Jum seorang wanita yang berperawak kurus dan tinggi dengan pirus wajah yang sedikit agak judes. Banyak orang  yang tidak mengenal Jum jika pertama kali bertemu akan menilainya sebagai ‘perawan’ tua yang judes. Akupun sempat menilai Jum demikian saat pertama kali kami bertemu  secara tidak sengaja dalam sebuah warung makan traditionalnya Thailand. Warung terssebut terletak tidak tepat disamping bungalow dimana aku tinggal. Warung ini juga menjadi tempat favorit untuk makanku sehari-hari. Sampai-sampai sang pemilik warung bersuami-istri itu menawariku untuk bekerja di warung tersebut. Karena tidak ada yang aku kerjakan — biasanya pagi sekali aku sudah bangun dan pergi kepantai, lalu menjelang sore aku bergabung dengan group aerobic lokal, dan malamnya aku mengunjungi Irish Pub yang tak jauh dari bungalow — akupun memutuskan untuk membantu mereka sebagai waitress khusus untuk para turis manca negara., karena kebetulan mereka tidak pandai berbicara bahasa Inggris. Meskipun warung mereka kecil namun kenikmatan makanan sang chef yang kebetulan adalah sang pemilik sendiri sangat disukai oleh para pelanggan. Si Chef yang bernama Pi Song (Pi berarti Abang/kakak perempuan dalam bahasa Thailand) berumur kira-kira 38-an, demikian juga istrinya yang bernama Pi Deng. Mereka berdua sudah layaknya saudara bagiku. Karena aku tidak meminta gaji, merekapun memberiku makan gratis kapanpun aku mau.

Jum dan aku bertemu di warung Pi Song, yang kebetulan Jum bekerja di sebuah toko antik yang pemiliknya kakak kandung Jum sendiri.  Dari sinilah awal persahabatan kami di mulai. Dan dari Jum, aku mengenal Ibunya Jum; yang bagiku beliau adalah seorang ibu ‘trend’ masa kini.  Hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama, dan meskipun Jum statusnya bekerja namun Ibunya Jum tidak keberatan aku bermain di toko seharian. Bahkan beliau pernah berkomentar: “Ibu senang sama kamu, jarang ada wanita  asia muda travel sendirian, dan tetap menjaga diri”. Mungkin penilaian beliau didasarkan atas perbandingan bagaiamana anak-anak muda di Thailand berperilaku di daerah yang dipenuhi turis. Well, bukan berarti aku tidak suka bersenang-senang, atau pergi ke party. Akupun layaknya seperti anak muda yang lain, bukan seorang geek yang hanya senang menghabiskan waktunya untuk belajar.  Yang terpenting buatku adalah dapat beradaptasi dengan lingkungan tanpa harus terinjeksi pada hal-hal yang negatif dalam lingkungan tersebut.

Penilaian beliau tentunya adalah sebuah apresiasi bagiku, disamping beliau adalah orang tua yang baik, beliau juga seorang  pengusaha wanita yang sangat disegani didaerah tersebut. Aku bisa merasakan bagaimana beliau memperhatikanku, tidak jarang beliau membelikanku makanan, bahkan makanan kesukaanku, dan menjengukku ke bungalow. Kamipun sering menghabiskan waktu di cafe hanya untuk mengobrol. Biasanya kalau sudah di Cafe, Ibu akan memesan chaweng beer kesukaanya dan kacang polong, dan aku sendiri memesang cocktail atau juice.

Kedekatan  kami kiranya membuat Jum sedikit cemburu, dan aku bisa merasakannya.  Sikap Jum tidak lagi sehangat beberapa bulan terakhir. Rupanya Jum ingin menyampaikan rasa ketidak-senangannya terhadap kedekatan kami dengan caranya yang menurutku sedikit childish…

Siang itu, seperti biasa aku datang ke toko dengan membawa sinyal ‘damai’  ke Jum — dengan memberikan senyum selebar mungkin dan sapaan hangat aku mengajak Jum pergi ke Pantai Lamai untuk berenang. Jum menerima tawaranku dengan setengah segan, antara mau dan tak mau. Tak lama kemudian, kamipun berangkat ke Pantai Lamai. Tiba di pantai Lamai, kamipun berjemur dengan menggunakan bikini yang kami beli bersamaan disebuah toko di Pantai Chaweng. Tak lama kemudian seorang penjual aksesoris menghampiri kami, karena kami berdua terlihat seperti asia, sang penjualpun mengira kami adalah turis lokal — namun setelah mendekat dan mendengar percakapan menggunakan bahasa Inggris, sang penjualpun minta maaf; kukatatakan kepada sang penjual bahwa aku bukan dari Thailand, dan menunjuk Jum adalah yang asli Thailand.

Percakapanpun terjadi selang beberapa menit diantara aku, Jum dan sang penjual. Dengan lugunya sang penjual menyentuh tanganku dan mengatakan: “You are beautiful lady, and your skin so nice”. Tentu saja ku ucapkan terimakasih atas pujiannya. Namun aku terkejut saat Jum mengomentari: “My skin is so nice too!”. Aku hanya berpikir Jum sedang bercanda saat itu. Meskipun wajahnya menunjukkan keseriusan dan ketidaksenangan saat itu.

Dalam perjalanan pulang ke Chaweng, kami berhenti di sebuah restoran yang berada tepat di sebuah tebing dengan panorama pantai begitu menyejukkan. Namun pemandangan tersebut nampak tak nyaman bagiku karena kulihat Jum menunjukkan sikap jelas yang tak bersahabat kepadaku. Berpikir bahwa Jum sedang tak enak hati kubiarkan dia bersikap seperti itu…..

Sekembalinya dari Pantai Lamai kami tidak pernah bertemu lagi, dan aku sendiri tidak ke toko. Tentunya ini membuat Ibu keheranan. Ibupun menyuruh aku untuk pergi ke pantai Chaweng bersama Jum. Karena tak enak hati dengan beliau, akupun mengajak Jum pergi ke pantai;  meskipun ku tahu Jum menyetujuinya juga karena tak enak hati dengan beliau. Kamipun berangkat ke Pantai Lama, dengan Jum dan Anjing keriting kecilnya.

Sikap Jum masih dengan sikap yang sama saat berada di Pantai Lama. Karena heran beberapa hari ini dengan sikapnya yang tak bersahabat itu, akupun langsung menanyakan apa gerangan yang telah membuatnya berubah sikap kepadaku. Dan inilah jawabannya:

“I don’t like you!”

Jawaban yang tidak pernah kusangka. Karena selama ini kami tidak ada masalah sama sekali. Bahkan aku mendukung hubungan Jum dengan Marco agar bersatu, walaupun saat itu Ibu tidak menyetujui hubungan mereka  namun aku berusaha membujuk Ibu agar mau memberikan kesempatan kepada Marco. Karena memang kupikir Marco adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab meskipun Marco bukanlah seorang pria mapan….

DBLN, 15.04-150410

 
2 Comments

Posted by pada April 15, 2010 in Thailand

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.