Dengan diantar van yang biasa aku sewa untuk menghantar berkeliling Mataram, kamipun berencana untuk pergi kesebuah bukit. Jangan dikira bukitnya bukit kecil ya. Bukit ini bukit super tinggi yang pernah aku daki selama hidup!
Apa keistimewaan bukit ini? Ya jelas ada dong. Kalau tidak mana mau aku mau bersusah payah mendaki bukit yang menjulang tinggi diangkasa langit itu!
Keistemewaan bukit itu adalah adanya sebuah Pura yang terletak tepat diatas bukit tersebut. Lho kok ada ya pura di tempat yang mayoritas muslim? Ya inilah keistimewaannya. Meskipun umat hindu yang tidak mayoritas di Mataram namun kesahajaan penduduk untuk menghormati sesama pemeluk agama lain sangat terlihat di Mataram. Ini terlihat dengan adanya beberapa pura yang dibangun di daerah Mataram.
Seneng ya bisa melihat perbedaan hidup dalam keharmonisan?
Saat menuju ke bukit tersebut kami melewati sedikit hutan belantara lalu lahan luas yang menghampar bebas dalam pandangan mata. Akhirnya setelah hampir 2 jam-an sampai juga aku disebuah depan sebuah gardu yang dikelilingi leh banyak pohon2 besar yang lebat. Gardu yang berukiran seperti banyaknya ukiran pura2 diBali terhias cantik dengan warna-warni alaminya. Dengan diperkenalkan oleh seorang kakek tua (yang diketahui sudah berumur hampir 90-an!), para guide tourku mengatakan bahwa kakek tua inilah yang akan menghantarku ke atas pura.
APA?!
“Aduh, mendingan aku kasih aja nih kakek duit daripada suruh ngantar aku keatas” kataku pada mereka karena melihat kondisi kakek yang kecil, kering keronta dan memakai tongkat! Aku hanya berpikir bagaimana mungkin kakek itu bisa menghantarku ke atas menuju pura dengan kondisi tua renta seperti itu??!!
Dengan
senyum kepercayan diri mereka membalasku: “Gak usah khawatir mbak, kakek ini sudah bekerja sepeti ini sudah lama sekali”.
Dengan keraguan yang masih begitu besar akupun dengan amat sangat terpaksa menerima untuk diantar kakek tua itu.
Tidak pernah terpikir olehku bahwa tangga yang menuju keatas bukit, beribu-ribu!
Saat aku menaiki tangga putaran pertama (setiap putaran tangga terdiri dari hapir seratus tangga) aku sempat ingin menolong kakek namun terlihat bahwa sang kakek begitu entengnya untuk membwa badannya sendiri dengan tongkat ditangannya. Malah kebalikannya, akulah yang memerlukan pertolongan!
Tangga putara ketiga Aku sudah kehabisan napas. Dan beberapa kali kami harus beristirahat. Masih kulihat kakek begitu tenangnya dan tidak sedikitpun terlihat lelah diwajahnya.
Entah berapa putaran tangga kami sudah lalui. Yang jelas sudah hampir lebih dari 2 jam-an kami menaiki tangga tersebut!

Sesampainya diatas bukit, kulihat sebuah pura cantik yang cukup besar untuk disebuah bukit. Beberapa orang yang sedang melakukan sembahyangan, anak2, muda dan tua berbaur dalam upacara khusuk di pura tersebut.
WAH. Itu saja yang bisa terguman dalam mulutku. Berada di atas bukit disebuah pura cantik dan unik dengan orang2 yang ramah senyum, dunia terasa damai dan indah.
Belum lagi pemandangan yang menghampar luas dibawah kaki langit yang biru cantik keputih2an dan cerah pada siang itu serasa menambah keberadaaNYA menemaniku menikmati pemandangan yang luar biasa indah dan cantik!
Untuk beberapa saat aku duduk sendiri menikmati hasil ciptaanNYA. Sampai beberapa anak kecil menghampiriku untuk minta di photo. Setelah itu aku bekeliling dipura tersebut. Kenyamanan berada diatas bukit tersebut menghilangkan ketakutanku pada ketinggian. Bahkan untuk beberapa menit aku sempat taku untuk melihat kebawah waktu pertama kali tiba diatas pura.
Setelah puas menikmati
dan berbincang serta bercengkarama dengan orang2 yang sedang melakukan sembahyangan dipura tersebut, aku dan kakek bersiap2 untuk turun kebawah bukit.
Seperti saat pertama kali naik keatas bukit, kami harus beristirahat untuk beberapa kali karena aku yang super lelah. Namun tidak selelah saat pertama kali naik. Tapi tangga yang cukup curam untuk turun kebawah dan juga berlumut hijau membuatku sedikit khawatir.
Tentu saja aku sedikit malu dengan sang kakek. Yang awalnya aku begitu meremehkan sang kakek namun kali ini kakek memang pantas diberi sebuah piala!
Selama perjalanan menaiki tangga keatas dan kebawah, pikiranku tak lepas dari pertanyaan: “Bagaimana mungkin kakek ini sanggup menaiki tangga yang curam dan tinggi ini?”
Oke kakek, suatu hari kalau kita bertemu dan berumur panjang akan kutantang kakek lagi untuk menaiki bukit itu!
Sekarang aku latihan dulu ya kek!
DBLN, 21.38-100309


Walaupun saat itu matahari panas menyengat kulit kami (khususnya kulitku yang sudah menghitam!), namun keunikan kampung dan keramahan penduduk serta anak2 yang lucu itu, rasanya membuat rasa kepanasan dan lelah kami hilang. Terbukti aku dengan beberapa turis lainnya asyik mengambil photo dan sesekali bercanda dengan anak2 tersebut.