Day 2 – Musibah Di George Town Penang

2009 Desember 4
oleh JengSri

Ku lihat di peta bahwa perjalanan dari pelabuhan Penang menuju George Town (pusat kota Penang) tidaklah begitu jauh. Karena tertarik dengan suasana pelabuhan, dan pemandangan saat itu mengingatkan akan tempat dimana aku lahir dan dibesarkan yaitu Tanjung Priok, akupun meminta Gaz untuk berjalan kaki saja menuju ke George Town.

“Are you sure?” Tanya Gaz. Aku mengangguk pasti. 15 menit perjalanan kaki awalnya biasa saja, aku masih terlihat segar bugar dan mungkin ini dikarenakan rasa hawa sejuk dari laut yang menyegarkan. Namun ketika sudah memasuki gedung-gedung, sel-sel otakkupun mengirimkan sinyal-sinyal ketidakbahagiaan atas pemandangan itu. Dan dua tas travel di pundakku (belakang dan depan) terasa beratnya minta ampun. Akupun meminta pada Gaz untuk berisitirahat sejenak. 5 menit setelah berisitirahat kami melanjutkan perjalanan. Karena tak tahan dengan rasa lelah dan rasa pusing yang mendadak mulai menyerangku, akupun meminta Gaz untuk mencari taksi.

“We’re almost there, just in 15 minutes. It’s too expensive to take taxi anyway. I know you can do it, come on” Kata Gaz berusaha meyakinkanku kalau aku tidak akan mati hanya karena jalan kaki untuk 15 menit lagi. Entah karena memang Gaz  sudah berpengalaman banyak dengan travel sehingga tidak mudah lelah dan gampang putus asa, semangatnyapun memberikan sedikit energi untuk diriku. Padahal aku sudah lelahnya minta ampun, aku tidak menyangka bahwa perjalanan ke George Town hampir 4 KM! Dalam hati aku terus berkata pada diriku sendiri: “kamu kuat, kamu kuat, kamu kuat….”

Setelah berkeliling George Town untuk mencari tempat penginapan yang agak murah, tibalah kami di sebuah tempat penginapan yang bangunanya agak mirip dengan bangunan model temple atau pura untuk sembahyangan para penganut agama Budha. Setelah check-in kamipun di antarkan menuju kamar kami masing2. Suasana penginapan tesebut terlihat nyaman dan sangat bersih, terlebih lagi ditengah-tengah penginapan tersebut terdapat kolam ikan yang besar sebuah taman yang sangat sejuk. Akupun berterimakasih pada Gaz karena sudah memilih tempat penginapan yang tepat untuk kami berdua.

Saat menuju ke kamar masing-masing, ku katakan pada Gaz kalau aku akan tidur sampai esok pagi dan tidak akan keluar untuk makam malam.  Gazpun mengangguk setuju dan memahami kelelahanku yang mungkin nampak sekali di wajahku. Setelah sempat mandi, akupun langsung menjatuhkan diri di kasur yang lumayan empuk, kurasakan nikmat yang luar biasa ketika badanku menyatu dengan kasur dan bantal. Akupun tertidur dalam kelelahan….

Tengah malam aku terbangun merasakan sedikit demam pada badanku, ketika ku coba untuk bangkit dari tempat tidur aku merasakan pusing yang luar biasa. Ku coba mengambil tas kecil p3k-ku yang berisi lengkap obat-obatan dan meminum panadol. Hingga pagi hari aku masih merasakan demam, dan kali ini demamku lebih parah.

Dari dalam kamar ku dengar Gaz mengetuk pintu kamar memanggil namaku, aku tak sanggup lagi berdiri. Gaz memanggilku berkali-kali, namun tetap aku tak sanggup untuk bangkit dari tempat tidur. Setelah beberapa menit kemudian, ku dengar suara orang lain mengetuk lagi, kemudian bergantian dengan suara Gaz. Dan akhirnya pintupun di dobrak….

Dalam kepayahan yang sakit luar biasa, ku lihat remang-remang dalam pandangan mataku raut wajah Gaz yang panik melihat keadaanku. “Oh my God, what happens to you?”. Aku bahkan tidak bisa bersuara dan pusing luar biasa saat ku coba membuka mata. Yang ku dengar hanyalah beberapa orang memasuki kamarku dan memapahku untuk masuk ke sebuah mobil, yang ku tahu ternyata mobil itu adalah ambulance …..

DBLN, 21.53-041209

Day 1 – Selamat Datang Di Penang

2009 November 14
oleh JengSri

Memandangi lautan lepas serta melihat kedalam jernihnya air laut hingga terlihat tumbuk karang di dalamnya membuat sel-sel otakku yang sempat kusut menjadi lurus kembali. Kapalpun mulai merapat masuk ke pelabuhan Penang. Beberapa orang sudah bersiap-siap dengan barangnya masing. Mayoritas orang-orang yang sekapal denganku adalah wanita-wanita dan pria muda yang kemungkinan hendak bekerja di Malaysia.

Aku dan penumpang kapal lainnyapun berjalan menuju kantor imigrasi Malaysia.  Pikiran segar yang sempat ku dapatkan dari pemandangan cantik di laut kontan saja hilang ketika ku lihat antrian yang cukup panjang di kantor imigrasi Penang. Terlebih lagi ku lihat para penumpang dengan barang-barangnya yang seperti mau mengungsi  serta aroma bau yang bercampur aduk layaknya pasar tradisional  menimbulkan rasa pusing yang tak karuan di kepalaku. Namun disinilah uniknya jika kita mengadakan travel, selalu mendapatkan suka duka dan hal-hal yang baru.

Sambil menanti giliranku untuk pengecekan paspor, akupun berusaha mengambil alih perhatianku pada pemandangan yang melelahkan mata dan menyegarkan rasa mualku dengan mendengarkan MP3ku. Sahabat travelku Gaz berdiri tepat didepanku dan di depan Gaz berdiri seorang wanita muda memakai jilbab yang jauh lebih muda daripada aku.  Ku lihat wanita muda itu sedikit gugup ketika tiba di pengecekan paspor Pegawai imigrasi yang sepertinya terlihat campuran peranakan India itu memperhatikannya dengan seksama. Karena tertarik dengan pemandangan antara si pegawai Imigrasi dan wanita muda itu, akupun melepaskan earphone MP3ku. Mungkin karena telihat gugup atau mungkin juga karena terlihat begitu muda, wanita muda itupun mendapatkan interogasi yang menurutku cukup lumayan lama. Ketika sang pegawi menanyakan “Berapa kamu punya uang?” (dalam aksen melayu), wanita muda itupun dengan lugunya mengeluarkan segera uang lembaran kertas dan recehan dari kantong baju dan dompetnya. Pemandangan kini terlihat sedikit iba untukku.

Aku mengira wanita muda tersebut adalah seorang tenaga kerja wanita Indonesia. Sang pegawaipun sedikit terlihat canggung atau mungkin juga malu begitu melihat wanita muda tersebut mengeluarkan langsung uang yang dimilikinya. Entah ini pertama kalinya atau tidak, namun aku mengira bahwa wanita tersebut sudah salah paham maksud dari pertanyaan si pegawai.

Pada umunya jika kita berpergian keluar negri pada saat pengecekan paspor, sering sekali kita ditanyakan tentang financial kita. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kita sanggup membiayai diri kita sendiri selama di neagra tersebut. Dan biasanya format pertanyaannya adalah: Berapa kamu punya uang. Dan kita cukup memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin di beberapa negara yang ketat sekali seperti saat ini di Australia, mereka akan mengecek secara detail keuangan kita dalam bentuk bukti print rekening bank.

Setelah hampir 15 menit menunggu si pegawai berinterogasi ria dengan si wanita muda itu, tiba giliran sabahatku Gaz untuk diperiksa. Kali ini berbeda dengan wanita muda itu, Gaz hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari sekitar 1 menit!

Selama aku sering melakukan travel ke berbagai daerah dan negara, aku jadi sering memperhatikan hal-hal yang sekecil apapun, bahkan yang tidak penting sama sekalipun kadang aku harus menulisnya di note. Tapi justru dari sini terkadang aku mendapatkan sebuah ilham besar yang dapat kujadikan sebuah kegiatan yang menarik, salah satunya ya ini, menulis di blog khusus untuk travel.

Setelah Gaz berlalu, sekarang tiba untuk pasporku diperiksa. Sang pegawai memperhatiku sekilas, seperti pegawai imigrasi sebelumnya di Medan, sang petugas memintaku untuk membuka topiku. Setelah ku buka sang petugas kembali membuka-buka pasporku. “Berapa punya uang?” pertanyaan yang sama di ajukan kepadaku (tapi tidak ditanyakan ke Gaz), “6 juta” jawabku pelan. “Tidak cukup untuk disini” balasnya lagi dengan sedikit nada sombong “I know, but only I stay in here for 4 days. I think that’s enough” jawabku yang kali ini dengan bahasa inggris, entah kaget karena jawaban dari bahasa inggrisku atau dengan nada tegasku, suara sang petugas akhirnya kembali melunak. “Itu siapa?”, sambil menunjuk sahabatku Gaz. Akupun mulai tidak menyukai pertanyaan tersebut, dengan sedikit nada tak senang akupun menjawab: “Not your business”. “Hati-hati ya kalau belum menikah” Kali ini respon-nya dengan sedikit senyum pria buaya darat. Dengan tidak menjawab lagi pertanyaan konyolnya itu, akupun berlalu tanpa mengucapkan terimakasih (biasanya aku selalu mengucapkan terimakasih pada pegawai imigrasi setelah memberikan pasporku), bahkan tidak melihat wajahnya sekalipun.

Dengan sedikit bersungut menampakkan kekesalan wajahku pada Gaz akupun berlalu dengan cepat dari imigrasi. Ku lihat para pegawai imigrasi mengecek kembali barang-barang dari penumpang yang berangtkat berangkat bersamaku. Herannya mereka tidak mengecek tas travelku dan Gaz. Karena sudah begitu lelahnya melakukan perjalanan, akupun tidak mau berpikir panjang tentang hal itu. Namun sempat ku menaruhnya dalam note ketika kami menuju kota Penang.

Tidak pernah tergambar dalam imaginasi ku seperti apakah Penang itu…….

DBLN, 17.43-141109